|
Ahli Gula Dunia Minta Petani Tebu Antisipasi Perubahan Iklim
Kamis, 02 Agustus 2007 | 11:05 WIB
TEMPO Interaktif, Surabaya:Untuk meningkatkan daya saing dan produksi gula, kalangan industri gula dan petani tebu perlu mengantisipasi perubahan iklim dan pemanasan global.
Demikian rekomedasi Kongres ke-26 Ikatan Ahli Gula Dunia (International Society of Sugarcane Technologists/ISSCT) yang berlangsung Ahad hingga hari ini di Durban, Afrika Selatan.
Wakil Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Gula Indonesia Adig Suwandi yang mengikuti kongres ini kepada Tempo mengatakan, dampak paling nyata perubahan iklim adalah terjadinya kemarau yang lebih panjang dan kekeringan di
mana-mana. "Hujan salah musim juga aspek terpenting," katanya.
Hujan di musim kemarau dan kemarau di musim hujan, Adig melanjutkan, berdampak terhadap keberhasilan pengelolaan industri gula. Antisipasi yang harus dilakukan, kata dia, meninimalkan faktor water stress (cekaman air) dengan
berbagai tindakan praktis di kebun sesuai dengan kondisi agroekologi setempat.
"Misalnya menggunakan bibit varietas unggul dan budidaya yang mengarah pada adaptasi yang praktis dapat. Penggunaan pupuk organik biokompos sebagai upaya perbaikan itu," katanya.
Afrika Selatan menjadi tuan rumah karena merupakan salah satu di antara 10 top pemain gula dunia yang berhasil mengatasi persoalan perubahan iklim. Negara ini menghasilkan 2.6 juta ton gula per tahun, baik raw maupun white sugar.
Menurut Adig, pemerintah Indonesia berharap produksi gula naik 1 juta ton dalam 3 tahun ke depan. Tahun 2006, 58 pabrik gula di Indonesiamenghasilkan 2,3 juta ton.
Tingkat konsumsi langsung di Indonesia 2,6 juta ton karena itu perlu impor sebanyak 300 ribu ton.Sunudyantoro
INDEKS BERITA LAINNYA :
|