|
Nelayan Jember Terancam Bangkrut
Kamis, 09 Agustus 2007 | 14:23 WIB
TEMPO Interaktif, Jember: Ribuan nelayan di pesisir Puger, Jember, mengeluhkan kebijakan pemerintah Cina yang menolak impor ikan laut dari Indonesia. Para nelayan terancam bangkrut karena kesulitan memasarkan ikan hasil tangkapan yang biasa dikirim ke Cina. Mereka akhirnya memilih tidak melaut.
"Kalaupun melaut, ya hanya untuk konsumsi sehari-hari saja,” kata Zaenal, 42 tahun, nelayan Puger kepada TEMPO, kamis (9/08).
Selama ini, hasil laut kawasan Puger yang memiliki nilai ekspor adalah jenis layur dan lemuru. Harganya di pasar Rp 9000 per kilogram. Namun dalam sepekan terakhir harga melorot menjadi Rp. 7000 per kilogram. Sedangkan ikan lemuru yang biasanya Rp. 4800 rupiah per kilo kini menjadi Rp. 1500 per kilogram. "Yang paling drastis ikan kerapu dari Rp 48 ruibu per kilo menjadi Rp 28 ribu," kata Zaenal.
Memang harus diakui, kebijakan pemerintah Cina itu bepengaruh besar pada kehidupan nelayan. Perusahaan-perusahaan yang biasa ekspor ikan ke Cina sekarang tidak lagi membeli ikan dari nelayan. Akibatnya nelayan enggan untuk melaut karena kawatir hasil tangkapan mereka tidak terbeli.
Dalam kondisi normal, nelayan mampu menghasilkan tangkapan ikan segar kualitas eksport 10 hingga 12 ton per hari. Namun jumlah tangkapan ikan segar kini menurun drastis dan hanya berkisar 1 hingga 2 ton per hari.
Mahbub Djunaidy
INDEKS BERITA LAINNYA :
|