|
Gempa Diduga Merusak Turbin Pertamina Balongan
Kamis, 09 Agustus 2007 | 18:18 WIB
TEMPO Interaktif, Indramayu:
Gempa bumi yang terjadi, Kamis (9/8), lewat tengah malam diduga merusakkan turbin penggerak mesin yang ada di kilang minyak Unit Pengolahan (UP) VI Pertamina Balongan. “Kami tidak tahu apakah rusaknya akibat gempa atau tidak, yang jelas kerusakan terjadi setelah gempa,” kata Kepala Hubungan Masyarakat UP VI Pertamina Balongan, Darjanto.
Tiga dari lima unit Steam Turbin Generator (STG), yakni power penggerak mesin di kilang minyak itu, tidak berfungsi setelah gempa mengguncang. Gempa itu diketahui berpusat di kedalaman 280 kilometer di lepas pantai pada arah barat laut Indramayu dengan kekuatan 7 Skala Richter (Versi BMG) atau 7,5 Skala Richter (versi USGS).
Menurut Darjanto, kerusakan sudah bisa teratasi oleh pengelola kilang minyak Pertamina sekitar pukul 04.00 WIB. Kerusakan pada unit STG itu sempat mengakibatkan operasi kilang UP VI Balongan sempat terganggu.
Di Indramayu, warga Desa Limbangan, Kecamatan Juntinyuat sempat mengungsi akibat gempa itu. Mereka kahwatir terjadi tsunami. "Desa kami ini paling dekat dengan laut ", kata Tarmidi, 50 tahun, warga Desa Limbangan.
Dia mengungsi bersama istri dan lima anaknya ke rumah salah satu kerabatnya di desa Lombang, Kecamatan Juntinyuat, yang berjarak 6 kilometer setelah gempa mengguncang. Setelah matahari terbit, dia sekeluarga baru berani kembali ke rumahnya.
Sejumlah nelayan di pantura tidak terpengaruh oleh gempa. Warcan, seorang nelayan di Pantai Dadap, Indramayu, tetap melaut seperti hari biasanya. “Kami yakin tidak terjadi apa-apa,” katanya.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Dr Surono mengatakan, gempa itu terjadi akibat pecahnya batuan tempat pertemuan lempeng Indo Australia yang menghunjam di bawah Lempeng Eurasia, tepat di bawah pulau Jawa pada kedalaman 286 kilometer.
Posisi pusat gempa diperkirakan berada di lepas pantai utara arah barat laut Indramayu. Akibat gempa itu, jelasnya, efek guncangannya justru terasa lebih kuat di daerah yang berjauhan dengan pusatnya. “Itu normal,” katanya. Ahmad fikri, Ivansyah, Nanang Sutisna
INDEKS BERITA LAINNYA :
|