|
Tembakau Ngawi Diserang Ulat
Jum'at, 10 Agustus 2007 | 11:18 WIB
TEMPO Interaktif, Ngawi:Sedikitnya seluas 500 hektare tanaman tembakau jenis vike atau biasa disebut jenis Turki berusia satu hingga dua bulan di sentra pertanian tembakau di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, rusak diserang hama ulat. Sentra tembakau itu terletak di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Kasreman, Padas dan Bringin,
Akibat serangan hama ulat tersebut, pertumbuhan tanaman tembakau menjadi terhambat. Batang tanaman tembakau kerdil serta mengering. Daun tembakau pun menjadi berlubang-lubang dan habis dimakan ulat.
Petani telah melakukan penyemprotan pestisida. Namun, karena ulat tersebut hidup di dalam batang tanaman, maka sulit untuk dibasmi. Upaya manual dengan mencari dan mematikan ulat tersebut pun sia-sia. Justru serangan ulat semakin meluas.
Menurut petani tembakau di Desa Gunungsari, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, Widodo, serangan ulat ini baru pertama kalinya. "Kami kesulitan menekan populasi ulat ini," ujarnya Jumat (10/8).
Serangan ulat ini, jelas Widodo, membuat harga tembakau turun. Apabila sebelumnya harga jual daun tembakau di dahan paling tinggi Rp 35 ribu per kilogram, saat ini hanya Rp 20 ribu per kilogram.
Sedangkan petani dari Desa Dampit, Kecamatan Beringin, Sudiran, mengatakan tanaman tembakau jenis vike ini merupakan varietas baru yang dikenalkan ke petani. "Serangan ini terjadi sebulan terakhir," ujarnya.
Total kerugian yang ditimbulkan akibat serangan ini, tambah Sudiran, mencapai Rp 2 juta per hektare. Pada kondisi normal petani mampu mendapatkan Rp 7 juta per hektare dari hasil penjualan tembakau. Namun saat ini berkurang menjadi Rp 5 juta per hektare.
Petani di tiga kecamatan tersebut mengembangkan pertanian tembakau sistem kemitraan bersama PT HM Sampoerna. PT HM Sampoerna yang menyediakan bibit serta pupuk, sedangkan petani bertugas untuk menggarap pertanian tembakau di lahan masing-masing. Hingga saat ini pemerintah setempat dan PT HM Sampoerna belum bisa memberikan keterangan atas serangan ulat ini.
DINI MAWUNTYAS
INDEKS BERITA LAINNYA :
|