Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Pedagang Buah Korban Lapindo Ancam Jebol Tanggul
Senin, 20 Agustus 2007 | 09:43 WIB

TEMPO Interaktif, Sidoarjo:Para pedagang eks pasar buah di Desa Jatirejo, Porong mengancam akan memblokade jalan Raya Porong dan menjebol tanggul lumpur jika nasib mereka tak kunjung diperhatikan.

Langkah sebanyak 70 pedagang di pasar buah tersebut hingga saat ini akan dilakukan lantaran sudah lebih dari setahun mereka merasa tidak diperhatikan. Bahkan aspirasi mereka untuk menuntut ganti rugi tak ada yang dikabulkan.

Merekapun kebingungan akan mengadukan nasibnya kemana. “Kami selalu dipingpong, BPLS minta kami lapor ke Bupati, tapi Pak Win (Bupati Sidoarjo Win Hendarso) minta kami ke BPLS,” ujar Ali Usman satu diantara pemilik kios.

Padahal sejak adanya bencana lumpur Lapindo, mereka praktis tidak lagi berjualan. Semula, meksi belum terkena lumpur, tapi kemacetan di jalan raya porong membuat kios-kios yang dibangun dengan menyewa tanah milik PT KA tersebut sepi pembeli.

Lalu, sejak puasa tahun lalu praktis sebanyak 60 kios yang berada di areal tersebut tidak lagi bisa digunakan lantaran terkena rembesan air lumpur dari tanggul di desa Jatirejo atau yang tepat berada di belakang kios mereka.

Apalagi beberapa bulan lalu, di salah satu kios tersebut juga menyemburkan semburan Lumpur. “Sejak saat itu seluruh kios tutup total,” imbuh pemilik dua kios yang mengaku mulai berjualan sejak tahun 2001 ini.

Para pedagang sendiri belum tau akan berbuat apa. Mereka kini hanya berusaha mengadukan nasibnya berbarengan dengan ratusan warga yang hingga kini masih bertahan di lokasi pengungsian di Pasar Baru Porong.

“Kami hanya bisa menitipkan aspirasi kepada pengungsi untuk disampaikan ke pusat,” kata Deddi, pedagang lainnya. Aspirasi yang dimaksud adalah ganti rugi uang sebesar Rp 30 juta/kios.

Meski nilainya sangat kecil (mengingat harga sewa 1 kios di pasar ini nilainya sekitar Rp 40 juta), namun angka ini menurut mereka sangat realistis. “Keinginan kami tidak banyak, semoga ini segera disetujui dan kami bisa berjualan kembali,” tambah Deddi.

Rencananya, aksi blokade jalan sebenarnya akan dilakukan, Senin (20/8). Namun dibatalkan dan akan dilakukan pada 27 agustus mendagang sambil menunggu kepastian apakah aspirasi yang mereka yang dititipkan kepada para pengungsi dikabulkan atau tidak.

Rohman Taufiq


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk105886 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Jatah Berobat Pasien Miskin di RS Bojonegoro sampai 1 September
Daftar Pemilih Tetap Pemilihan Gubernur Jawa Timur Kacau
Semester Pertama 2008, Ekonomi Bertumbuh 6,2 Persen
PT. INKA Kebanjiran Pesanan Membuat Kereta
Mobil Pengambil BLT di Subang Terguling

<< August,2007>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data