|
Jasa Tirta Kewalahan Atasi Sedimentasi Waduk Gajah Mungkur
Kamis, 23 Agustus 2007 | 12:34 WIB
TEMPO Interaktif, Solo:Perum Jasa Tirta Bengawan Solo kewalahan untuk melakukan perawatan terhadap Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri yang menjadi tugasnya. Kerusakan daerah aliran sungai (DAS) yang parah menyebabkan sedimentasi waduk sangat tinggi.
Setiap tahun sekitar 5 juta ton kubik sedimen berupa lumpur masuk ke dalam waduk, sementara pengerukan yang dilakukan hanya bisa mengurangi sekitar 0,10 persen sedimen yang masuk ke dalam waduk. "Hanya di intake (pintu air) saja, agar pembuangan bisa dilakukan," kata Direktur Perum Jasa Tirta Bengawan Solo, Sutioso Budiharto, kepada Tempo.
Menurut Sutioso, akibat sedimentasi yang berlebihan, pendapatan dari pengelolaan air di Waduk Gajah Mungkur hampir seluruhnya dihabiskan untuk pengerukan lumpur. Dia mengatakan dalam satu tahun pendapatan yang diperoleh dari pengolahan air waduk tersebut hanya Rp 1,5 miliar. Sementara biaya pengerukan mencapai Rp 20 ribu per meter kubik.
Sutioso berharap pemerintah memberikan perhatian dengan mengalokasikan anggaran, terutama untuk perbaikan DAS di atas waduk, sehingga fungsi waduk yang ditargetkan bertahan hingga 100 tahun sejak dibangun bisa dicapai. "Pengerukan lumpur sebenarnya hanya langkah temporer agar air waduk tetap bisa mengalir, yang terpenting adalah perbaikan DAS," kata dia.
Dia memperkirakan kebutuhan anggaran mencapai triliunan rupiah apabila perawatan waduk hanya difokuskan untuk mengeruk sedimen. Pengerukan yang dilakukan tiap tahun dan menyedot tidak kurang dari 80 persen pendapatan Perum Jasa Tirta itu sebenarnya tidak terlalu efektif mengingat jumlah sedimen yang dikeruk tak sebanding dengan jumlah sedimentasi yang berasal dari erosi di daerah aliran sungai menuju WGM. ”Harus dilakukan meminimalisasi erosi di DAS, tetapi ini kan jangka panjang baru diketahui hasilnya,” kata dia.
Dari tujuh daerah sungai besar yang bermuara ke waduk tersebut, hanya DAS Wuryantoro yang menyumbang sedimentasi dalam skala kecil, yaitu hanya 50.000 ton per tahunnya. Tiga DAS, antara lain DAS Keduang, Tirtomoyo, dan Solo Hulu merupakan daerah kritis yang mengalirkan lumpur dan menyebabkan sedimentasi Gajah Mungkur semakin tinggi.
Imron Rosyid
INDEKS BERITA LAINNYA :
|