|
Kekeringan di Banten Makin Parah
Kamis, 23 Agustus 2007 | 17:11 WIB
TEMPO Interaktif, Serang:Kekeringan mulai benar-benar dirasakan sejumlah warga Provinsi Banten. Selain kesulitan air, kekeringan juga menyebabkan 2.500 hektare tanaman padi mati mengalami puso. Sampai saat ini, pemerintah Provinsi Banten belum memberikan bantuan kepada para petani yang menjadi korban kekeringan ini.
"Saya sudah melihat langsung ke lokasi kekeringan. Kondisinya makin parah," kata Yayat Suhartono, anggota Komisi II DPRD Banten, kemarin.
Menurut dia, Kecamatan Tirtayasa di Kabupaten Serang meru[akan salah satu kecamatan terparah yang menjadi
langganan musibah tahunan kekeringan di Banten. Di daerah ini, kata dia, ribuan hektare lahan persawahan yang sebagian besar baru ditanami padi 10 sampai 20 hari itu kini kering kerontang dan mati. Bahkan kondisi tanahnya sudah pecah.
Meski di sana terdapat saluran irigasi sekunder, namun sudah tidak bisa berfungsi lagi karena mengalami pendangkalan.
Petugas Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Tirtayasa sendiri, menurut Yayat, ketika ditemui mengaku tidak bisa berbuat banyak untuk mengatasi kondisi itu. Perbaikan irigasi sekunder pernah diusulkan, namun belum dipenuhi.
Sementara itu, ratusan petani korban kekeringan di Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang mengeluh lambatnya pemerintah provinsi Banten memberikan bantuan kepada para korban kekeringan. "Sekarang ini mau makan saja susah. Apalagi mau beli air." kata Jealenai, warga Desa Kejambulan, Kecamatan Ciruas.
Berdasarkan pantauan, Kamis pagi, puluhan warga di daerah ini terpaksa tengah menggali tanah di saluran irigasi yang telah lama mengering. Menurut warga, penggalian sungai dan saluran irigasi yang kering itu dilakukan warga sejak dua pekan lalu. "Semuanya kering sudah tidak ada lagi persediaan air," kata Sayuti warga lainnya.
Faidil Akbar
INDEKS BERITA LAINNYA :
|