Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Pengamatan Gerhana di Boscha Jadi Ajang Uji Coba Siaran Pengamatan Hilal
Selasa, 28 Agustus 2007 | 17:44 WIB

TEMPO Interaktif, Bandung: Kepala Observatorium Boscha Taufik Hidayat mengatakan, pengamatan gerhana bulan Selasa (28/8) ini akan disiarkan langsung melalui TVRI dan streaming via website di http://www.as.itb.ac.id. “Ini akan menjadi ajang uji coba menyiarkan pengamatan hilal secara langsung,” katanya ketika dihubungi Tempo, Selasa (28/8).

Peneliti Boscha kini tengah menyiapkan peralatan untuk mengamati gerhana bulan untuk menyiarkannya. Gerhana bulan akan diamati oleh Observatorium Boscha menggunakan teleskop Refraktor William berdiameter 6 milimeter yang ditambahi pendeteksi untuk mengikuti gerakan bulan. Hasil pengamatan nantinya berupa file video yang akan dipancarkan untuk disiarkan melalui siaran televisi dan streaming via website.

Kegiatan pengamatan itu akan disiarkan langsung oleh TVRI selama satu jam mulai pukul 18.00 WIB. Sementara siaran streaming via internet melalui alamat situs Astronomi ITB itu sudah bisa diakses. “Sekarang ini bisa dilihat simulasinya, begitu teleskop sudah bergerak langsung kita siarkan melalui website,” kata Taufik.

Siaran streaming via website akan terus berlangsung sampai gerhana bulan selesai diamati yakni pukul 9 malam nanti.

Pengamatan gerhana bulan yang disiarkan langsung itu akan menjadi siaran uji coba pengamatan hilal untuk penentuan awal Bulan Ramadhan dan Bulan Syawal. Menurut Taufik, selama ini masyarakat hanya mengetahui hasilnya saja tanpa mengetahui prosesnya.

Melalui program pengamatan yang bekerjasama dengan Departemen Komunikasi dan Informasi ini, jelasnya, masyarakat diajak untuk menyaksikan langsung bagaiman teknis penentuan hilal tersebut. “Menteri Komunikasi dan Informasi M. Nuh serta Menteri Agama Maftuh Basyuni akan berbicara di TVRI,” katanya.

Untuk pengamatan hilal nanti, siaran serupa akan digelar. Menurutnya, pengamatan hilal akan dilakukan pada tanggal 11-12 September mendatang. “Nanti juga akan disiarkan seperti ini,” kata Taufik.

Pengamatan gerhana bulan juga dilakukan oleh Lembaga Antariksa dan Penelitian Angkasa Nasional (LAPAN) di stasiun pengamatan matahari milik lembaga itu di Tanjungsari, Sumedang. “Sayangnya kita tidak bisa melihat perjalanan gerhana itu dan hanya menyaksikan puncak gerhana bulan sampai bagaimana bayangan bumi meninggalkan bulan,” kata peneliti Lapan Clara Yatini pada Tempo.

Di lembaga itu, peneliti LAPAN memakai semua teleskop yang ada di stasiun pengamatan angkasa di Desa Haur Gombong, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang. Teleskop yang digunakan adalah teleskop Celestron dan Celestron Lexstar yang masing-masing berdiameter 8 inchi serta, teleskop yang paling besar yakni teleskop NGT berdiameter 18 inchi. Peneliti LAPAN akan memotret gerhana bulan terakhir tahun ini.

Pada puncak gerhana gerhana bulan nanti, warna bulan akan berwarna suram kemerah-merahan. Fenomena ini akan lengkap disaksikan oleh masyarakat yang tinggal di lingkup Waktu Indonesia Timur.

Menurut Taufik, sayangnya di Indonesia bagian barat, bulan purnama baru terbit pukul 17.51 WIB. “Kita (di Indonesia bagian barat) sudah kelewatan gerhana maksimumnya,” katanya. Yang bisa disaksikan, jelasnya, bulan yang muncul sesaat setelah matahari tenggelam langsung berwarna kemerah-merahan, sebelum pelan-pelan kembali memantulkan cahaya putih.

Mereka yang bertempat tinggal di NTT sampai Papua, akan dapat melihat perubahan warna bulan purnama, mulai dari putih cemerlang menjadi suram, lalu menjadi kemerahan, sebelum pelan-pelan kembali memancarkan warna putih terang. Masyarakat yang tinggal di lingkup Waktu Indonesia Barat dan Waktu Indonesia Tengah hanya akan menyaksikan, bulan purnama yang terbit berwarna merah sebelum berangsur-angsur memutih kembali.

Pelan-pelan warna bulan saat purnama akan kembali putih cemerlang. Warna bulan yang kemerahan itu terjadi akibat cahaya yang menimpa bulan berasal dari cahaya matahari yang dibiaskan oleh atmosfer bumi. Cahaya yang dibiaskan oleh atmosfer bumi adalah cahaya merah sehingga bulan akan terlihat kemerah-merahan.

Proses gerhana sendiri dimulai pukul 14.53 WIB, saat itu permukaan bulan mulai menyentuh lingkaran bayang-bayang umbra. Bulan akan mulai berubah suram dan pelan-pelan menjadi kemerahan mulai 16.52 WIB, yakni seluruh permukaan bulan masuk dalam bayang-bayang umbra. Puncaknya, warna bulan menjadi sangat kemerahan terjadi pukul 17.37 WIB. Warna bulan yang suram dan kemerahan itu akan bertahan sekitar setengah jam, yakni sampai pukul 18.22 WIB.

Ahmad Fikri


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Efek Gerhana Bulan, Gelombang Pasang di Pulau Siberut
Gerhana Bulan Bisa Sebabkan Rob
Bulan Menghilang Selasa Malam

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk106429 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Lima Calon Walikota Independen Mendaftar ke KPUD Kediri
11 Parpol di Kepri Tidak Memenuhi Syarat
Presiden Terbang ke Malaysia
Presiden Sindir Iklan Politik
Wapres Berkunjung, Palembang Dijaga Ketat

<< August,2007>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data