|
Klinik VCT Jember Tak Bisa Periksa Pengidap AIDS
Rabu, 26 Desember 2007 | 13:10 WIB
TEMPO Interaktif, Jember: Klinik Voluntary Counselling and Testing (VCT) RSUD dr. Soebandi-Jember, Jawa Timur, dalam sebulan terakhir kehabisan 'reagen' atau zat untuk mendeteksi darah pengidap HIV/AIDS. Akibatnya puluhan orang yang diduga tertular penyakit mematikan ini tidak bisa diperiksa.
"Sejak awal bulan ini kami kehabisan 'reagen'. Kami sudah meminta ke pemerintah pusat tetapi sampai saat ini belum dikirim. Ya, terpaksa puluhan pasien belum bisa diperiksa apakah mereka positif atau negatif AIDS," kata Kepala Klinik VCT RSUD dr Soebandi Jember, dr. Justina Evi Tyaswati, Rabu (26/12) pagi.
Padahal dalam bulan Desember 2007 ini sudah ada sedikitnya 6 warga Jember yang diduga tertular virus HIV/AIDS. Mereka berusia antara 25 sampai 35 tahun. "Sementara ini kami nyatakan mereka masih 'intermediate'. Belum sepenuhnya positif. Karena baru diperiksa dengan test reagen 1 kali,"katanya.
Keenam warga yang diduga penderita AIDS itu, adalah pekerja di sektor swasta, yang berkantor di Bali, Banyuwangi dan Surabaya. Mereka dididuga kuat mengidap penyakit mematikan itu setelah diperiksa Klinik Voluntary, Counselling and Testing (VCT) RSUD dr. Soebandi. Satu pasien semula dideteksi menderita penyakit diare dan TBC. Sedangkan lima lainnya dideteksi terinfeksi penyakit berbahaya itu lewat hubungan seksual dan pengguna aktif narkoba. "Semuanya masih pada Stadium 1 dan 2. Kondisinya badannya masih prima," tambah dr.Justina.
Untuk dinyatakan positif mengidap AIDS, mereka mesti diperiksa dengan tiga (3) kali pemeriksaan dengan reagen yang berbeda, dan semunya harus menunjukkan hasil positif. "Kami berharap pemerintah pusat segera mengirimkannya. Karena akhir-akhir ini banyak 'calon pasien' yang ingin memeriksakan diri tetapi terpaksa kita tolak,"katanya.
Dalam sebulan terakhir, tercatat sedikitnya 11 orang warga Jember yang telah dinyatakan positif mengidap AIDS. Salah seorang diantaranya adalah balita dari pasangan suami-istri yang mengidap penyakit berbahaya itu. (Mahbub Djunaidy)
INDEKS BERITA LAINNYA :
|