|
Perubahan Tata Guna Lahan Penyebab Longsor Karanganyar
Kamis, 27 Desember 2007 | 20:38 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Kepala Bidang Pengamatan Gempa-bumi dan Gerakan Tanah, PVMBG, Dr E Kusnidar Abdurachman mengatakan, perubahan tata guna lahan pada daerah lereng perbukitan Gunugn Lawu yang menjadi salah satu penyebab utama longsor di Kabupaten Karanganyar. ?Yang tadinya di lereng bagian atas berupa tanaman keras sekarang telah menjadi ladang jagung dan sayur mayur, itu salah satu penyebab longsor yang dipicu oleh curah hujan tinggi,? katanya ketika dihubungi Tempo, Kamis (27/12).
Menurutnya, kondisi alam daerah bencana di Kabupaten Karanganyar kaki Gunung Lawu bagian barat dan selatan rata-rata merupakan perbukitan dengan lereng yang terjal. Kemiringannya berkisar antara 25 derajat sampai 40 derajat. Ditambah lagi, paparnya, jenis tanahnya berupa batuan vulkanik produk gunung api muda yang mudah lepas.
Lembaga itu mengirimkan timnya untuk melakukan penyelidikan kondisi geologi, tata guna lahan, keairan, topografi, dan tingkat kerusakan di lokasi bencana. Tim tersebut juga bertugas memberikan rekomendasi teknis pada pemerintah daerah dan masyarakat sekitar lokasi bencana untuk langkah-langkah penangulangan dan pencegahan bencana serupa itu.
Dia menuturkan, hasil pengamatan tim yang dikirimnya dari Bandung mendapati, beberapa wilayah di sekitar areal bencana yang belum longsor masih berbahaya. Pasalnya, paparnya, dikhawatirkan daerah yang belum longsor malah akan menyusul longsor jika terjadi curah hujan tinggi seperti sebelumnya. ?Masyarakat sekitarnya harus meningkatkan kewaspadaannya,? katanya.
Terutama, tuturnya, daerah permukiman penduduk yang ada di Kecamatan Tawangmangu. Timnya mendapati masih banyak permukiman penduduk di lereng terjal yang rentan tertimpa bencana longsor. Gambaran yang sama juga diperoleh dari daerah-daerah lainnya di Kabupaten Karanganyar yang termasuk kategori wilayah yang rentan grakan tanah menengah dan tinggi. ?Kalau dipicu oleh curah hujan tinggi, ditambah lahan yang gundul bisa terjadi longsor lagi,? kata Kusnidar.
Untuk langkah antisipasi jangka pendek, paparnya, maysarakat harus semakin waspada mengingat curah hujan akan lebih tinggi lagi ketika memasuki Bulan Januari nanti. Dia mencontohkan, masyarakat sekitar wilayah yang rawan longsor harus memulai dengan mengawasi lingkungannya.
Misalnya, tuturnya, mewaspadai jika menemukan adanya retakan-retakan kecil di daerah lereng atau puncak perbukitan. Jika menemukannya, paparnya, harus segera ditutup karena jika air meresap masuk akan memicu longsor. Selain itu, paparnya, mewaspadai jika menemukan erosi-erosi kecil yang memungkinkan membesar jika curah hujan tinggi.
Penanganan selanjutnya, tuturnya, masyarakat dan pemerintah daerah harus segera membenahi tata guna lahan di sektiar wilayah yang terancam bencana. Dia menyarankan agar masyarakat tidak membuat persawahan atau ladang di areal dengan kemiringan terjal. Lalu, lanjutnya, lokasi permukiman penduduk di areal yang tergolong rentan gerakan tanah menengah-tinggi, harus dievaluasi sedemikian rupa agar ditempatkan di wilayah yang aman. ?Rumah penduduk agar tidak berada di atas bukit atau di bawah bukit, juga hindari lokasi permukiman yang berada di bantaran sungai,? katanya. ahmad fikri
INDEKS BERITA LAINNYA :
|