|
Longsor di Tawangmangu Sudah diprediksikan Setahun Silam
Kamis, 27 Desember 2007 | 20:40 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah Kabupaten Karanganyar sebenarnya sudah diperingatkan bahaya longsor di daerahnya sejak setahun silam. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo menemukan terjadinya perubahan fungsi kawasan pelindung dan penyangga di sekitar Gunung Lawu menjadi kawasan budidaya semusim dan tahunan.
"Setahun lalu, sudah ada rekomendasi agar dilakukan penyesuaian lahan dikawasan itu," kata Tundjung Wahadi Sutirto, salah satu peneliti di PPLH UNS yang pernah melakukan studi potensi dan tingkat kerusakan sumber daya alam di daerah aliran sungai (DAS) Samin Kabupaten Karanganyar dan Sukoharjo kepada TEMPO, Kamis (27/12).
Tawangmangu, merupakan kawasan yang berada di DAS Samin yang bermuara di Bengawan Solo. Dia mengatakan banyak kawasan lindung dan penyangga yang berubah menjadi area penanaman sayuran dan juga tanaman tahunan. "Terbukti hanya satu tahun terjadi longsor, entah kebetulan atau tidak, tapi beberapa daerah di Karanganyar merupakan daerah rawan longsor," katanya.
Menurut Tunjung, selain karena perubahan fungsi lahan, potensi terjadinya longsor di Karanganyar juga disebabkan karena maraknya penambang galian C seperti di daerah Jatiyoso, yang Rabu kemarin juga terkena longsor. Penyebab lainnya adalah pembuatan saluran air di beberapa tempat juga tidak memperhatikan struktur geologi serta kemiringan tanah. "Pengolahan ladang dengan sistem digenangi sebaiknya diganti dengan disirami," ujarnya.
Penambangan batu dan pasir di Sungai Samin, menyebabkan degradasi dasar sungai yang bisa memicu terjadinya tanah longsor di tebing sungai. Sementara penambangan trass seperti di daerah Koripan dan Gemantar, Matesih, menyebabkan tebing yang sangat terjal, cenderung tegak, rawan longsor karena penambangan tidak dengan sistem bertangga.
"Parahnya, daerah-daerah yang kami petakan sebagai daerah rawan longsor menjadi pemukiman sehingga ketika longsor terjadi maka memunculkan korban," kata dia. Tunjung mengatakan beberapa desa di Kecamatan Tawangmangu yang merupakan daerah rawan longsor meliputi Desa Gondosuli, Cengklik, Kalisoro, Blumbang, dan Tawangmangu sendiri. Di luar Tawangmangu, daerah yang rawan adalah Matesih dan Jumantono.
Dalam penelitian yang dilakukan PPLH UNS, DAS Samin mencakup 32.378, 787 hektar yang berada di wilayah Kabupaten Karanganyar dan Sukoharjo mencakup 88 desa. Disebutkan, sekitar 695,840 hektar atau 2,15 persen dari wilayah itu memiliki tingkat bahaya longsor sangat tinggi dan 9,52 persen tingkat bahaya longsor tinggi. Sementara yang dikategorikan ringan seluas 6.937 hektar (21,42 persen) dan 21.664 hektar (61,91 persen) sedang.
Menurut Tunjung, Pemerintah Kabupaten Karanganyar dan Sukoharjo harus meningkatkan kewaspadaan yang tinggi terhadap daerah-daerah yang berada di DAS Samin ketika curah hujan sangat tinggi seperti belakangan ini. Dia menyebutkan daerah sebelah hulu Taman Wisata Grojogan Sewu merupakan daerah dengan tingkat kerentanan tanah longsor yang sangat tinggi. "Saat dilakukan penelitian, telah terjadi tanang longsor sporadis sehingga perlu pemantauan khusus oleh pengelola kawasan wisata," ujarnya. imron rosyid
INDEKS BERITA LAINNYA :
|