|
Warga Bojonegoro Mulai Kelaparan
Sabtu, 29 Desember 2007 | 11:20 WIB
TEMPO Interaktif, Bojonegoro:Akibat air Bengawan Solo terus meluap, ribuan warga Desa Padangan mulai terisolir dan mulai kelaparan. Sejumlah warga yang terisolir itu antara lain warga yang tinggal di bantaran Bengawan Solo di Dusun Kalangan dan warga Dusun Pengkok, Desa Padangan, Kecamatan Padangan.
Terisolirnya warga di dua dusun tersebut akibat jalan provinsi yang menghubungkan Cepu (Jawa Tengah)–Bojonegoro dan Cepu–Ngawi masih lumpuh.
Memasuki hari ketiga banjir yang melanda Kabupaten Bojonegoro, pagi ini air banjir terus meluap. Ketinggian air yang meluap di jalan raya Padangan–Ngawi di Dusun Pengkok mencapai 1 meter dan panjang genangan air di jalan raya mencapai 2 kilometer.
Tertutupnya akses dua jalan vital tersebut membuat ribuan warga Padangan semakin cemas karena mereka terisolir dari pusat kota, yaitu Cepu dan Bojonegoro. Satu-satunya akses yang bisa ditempuh warga untuk ke Cepu hanya dengan jalan kaki atau naik gerobak dorong yang ongkosnya Rp 20 ribu untuk sekali antar. "Itu pun hanya sampai di SPBU Padangan," kata Mansur, warga Desa Padangan kepada Tempo hari ini.
Kondisi yang lebih parah dialami warga Dusun Pengkok karena jembatan Pengkok yang sudah dua hari ini direndam air, ambrol separuh. Jika jembatan ini terputus, ratusan warga Pengkok akan kesulitan mendapatkab bantuan maupun bahan makanan pokok. Saat ini saja persediaaan makanan warga Dusun Pengkok mulai menipis. "Jalan ke Bojonegoro dan ke Ngawi sudah terputus sejak kemarin," kata Mansur.
Satu-satu akses warga Pengkok untuk keluar dari daerahnya hanyalah jalan ke arah selatan (jurusan Ngawi), tetapi hanya sampai ke Kecamatan Ngraho, karena jalan menuju Kota Ngawi sudah tertutup total akibat banjir.
Tertutupnya akses jalan dua provinsi itu membuat warga kesulitan memperoleh bantuan. Kemarin sejumlah relawan dari Kecamatan Purwosari sempat menyerahkan bantuan ke posko di perempatan jalan Padangan. Tetapi hari ini akses ke Padangan tertutup total karena jalan di desa tersebut juga sudah direndam air.
Menurut Nur Isniyah, seorang pengusaha asal Kecamatan Purwosari, hingga kemarin dia kesulitan memberikan bantuan mie kering dan nasi bungkus ke warga Padangan karena akses ke daerah tersebut tertutup oleh air. "Kemarin saudara saya minta dikirim bantuan nasi, tapi saya kesulitan mengirim ke lokasi karena jalan raya sudah direndam air," katanya.
Selain kesulitan menyerahkan bantuan, sejumlah warga asal Padangan yang berada di luar kota juga kesulitan mengunjungi keluarganya di Bojonegoro. Bambang Jatmiko, warga asal Desa Padangan yang kini bekerja di Dinas Perhubungan Jawa Timur dan tinggal di Surabaya kebingungan mencari akses jalan ke Bojonegoro. "Ibu dan kakak perempuan saya terjebak banjir, tapi saya tak bisa ke sana," katanya.
Saat ini warga Bojonegoro yang rumahnya terendam banjir berharap pemerintah memberikan bantuan perahu karet dan bantuan makanan lewat udara. Menurut Mansur, semula di Desa Padangan disediakan satu perahu karet, tetapi sejak kemarin ditarik ke Desa Kebonagung untuk mengungsikan warga di sana. "Kalau air terus meluap dan jembatan Pengkok ambrol, kami bisa kelaparan di sini" kata Mansur.
Zed Abidien
INDEKS BERITA LAINNYA :
|