|
Inflasi Jawa Barat Bulan Ini 1,37 Persen
Jum'at, 01 Pebruari 2008 | 17:41 WIB
TEMPO Interaktif, Bandung:Program konversi minyak tanah ke gas memicu inflasi bulan Januari di Jawa Barat menembus angka 1 persen. Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat Lukman Ismail, inflasi Jawa Barat yang mencapai 1,37 persen ini merupakan yang terburuk dalam setahun terakhir. Angka inflasi di atas 1 persen di Jawa Barat terakhir terjadi pada Desember 2006, 1,2 persen, disebabkan oleh gejolak harga beras saat itu.
Dari tujuh kota besar di Jawa Barat, enam kota mengalami inflasi di atas 1 persen, kecuali Kota Sukabumi yang inflasinya hanya 0,47 persen karena tidak ada gejolak minyak tanah. “Yang mengalami kenaikan itu daerah yang terkena program konversi minyak tanah ke gas,” kata Lukman Ismail, di Bandung, Jumat (1/2).
Enam dari tujuh kota besar di Jawa Barat yang disurvei BPS, semuanya mengalami inflasi di atas Inflasi Gabungan Jawa Barat yang hanya 1,37 persen. Inflasi tertinggi dialami Kota Cirebon 1,74 persen, diikuti oleh Kota Banjar (1,57 persen), Kota Bogor (1,46 persen), Kota Tasikmalaya dan Kota Bekasi (1,4 persen), lalu Kota Bandung (1,39 persen).
Rekaman BPS Jawa Barat terhadap 7 kelompok survey menunjukkan, komponen minyak tanah yang termasuk pada sub kelompok bahan bakar, penerangan, dan air menjadi penyumbang terbesar inflasi kelompok perumahan yang angkanya mencapai 0,57 persen. Sub kelompok bahan bakar, penerangan, dan Air sendiri memberikan andil inflasi sebesar 0,5 persen.
Kelompok survei lainnya yang menyebabkan inflasi Jawa barat menembus angka 1 persen itu disumbangkan kelompok bahan makanan (0,418 persen) dan kelompok makanan jadi, Minuman, rokok dan tembakau (0,228 persen). Lukman menjelaskan, untuk kelompok bahan makanan, andil terbesarnya disumbangkan oleh kenaikan harga kedelai dan terigu. Kenaikan kedua bahan makanan itu menjadikan produk makanan jadi ikutannya juga ikut naik.
Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik Jawa Barat Maman Sukherman menjelaskan, di Jawa Barat, inflasi tinggi pernah terjadi pada Januari 2005 yakni 1,52 persen. Saat itu, jelasnya, inflasi terjadi akibat imbas kenaikan harga BBM yang berimbas pada banyak sektor.
Untuk kasus inflasi Januari 2008, jelas Maman, penyumbang inflasi terbesar diakibatkan oleh kenaikan harga minyak tanah yang disebabkan oleh terjadinya gangguan pada distribusi minyak tanah yang disebabkan oleh program konversi minyak tanah. Dia mencontohkan, di Kota Sukabumi, inflasinya paling rendah karena tidak terjadi gejolak minyak tanah. “Tidak ada program konversi di sana,” katanya.
Kenaikan ini, ia menambahkan, diperburuk dengan kenaikan harga kedelai dan terigu yang ikut menyumbangkan kenaikan inflasi Januari 2008.
Maman mengatakan, jika situasi seperti ini terus dibiarkan, pada inflasi semester I di Jawa Barat bisa melebihi angka 3 persen. Pemerintah, menurut dia, agar memperhatikan distribusi minyak tanah serta segera mencari bahan makanan yang bisa menggantikan komoditas seperti kedelai dan terigu yang didominasi oleh bahan impor.
Inflasi Jawa Barat sepanjang 2007 paling tinggi hanya 0,9 persen pada Agustus. Bahkan sempat deflasi pada April 2007, -0,33 persen dan Mei, -0,15 persen.
Ahmad Fikri
INDEKS BERITA LAINNYA :
|