|
Polisi dan Banser Kawal Diskusi Supersemar
Rabu, 05 Maret 2008 | 16:45 WIB
TEMPO Interaktif, Yogyakarta:Front Anti Komunis Indonesia (FAKI) membuat kaget guru-guru sejarah dan peserta bedah buku “Membongkar Supersemar” di Benteng Vredenburg, Yogyakarta, Rabu (5/3). Aktifis FAKI yang berteriak-teriak di tengah seminar, membuat peserta resah.
Bedah buku yang diselenggarakan Kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran Sejarah Yogyakarta ini menghadirkan narasumber: penulis buku Membongkar Supersemar, Romo Baskara T. Wardaya, SJ; Pakar Telemedia KRMT Roy Surya Natadipraja. Hadir dalam acara itu, para guru sejarah, siswa sekolah, dan para pelaku sejarah. Seorang di antaranya, Soekardjo Wilardjito.
Sejak seminar dimulai, sudah muncul kasak-kusuk bahwa FAKI bakal menyerang. Untuk menghindari terjadinya keributan, panitia mengontak Kepolisian Kota Besar Yogyakarta. Melihat situasi yang kurang nyaman, seorang peserta memanggil teman-temannya yang tergabung dalam Banser NU.
Komandan Banser Bantul, Khozen mengakui, kehadiran dia dan teman-temannya hanya membantu aparat, menjaga keamanan. “Kami tidak ingin ada ribu-ribut di sini,” katanya.
Dalam bedah buku itu, Rama Baskara mengatakan tidak akan menyoal keaslian naskah Supersemar. “Saya fokus pada sejarah pra-kondisi sebelum Supersemar itu dikeluarkan, hingga dampak yang muncul, berdasarkan dokumen dari Amerika,” katanya.
Buku ini memang menguak dokumen yang berkode “Rahasia”, “Konfidensial”, “Distribusi Terbatas”, dari Kedutaan Besar AS di Jakarta, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat di Washington, CIA, Gedung Putih, Kantor National Security Agency dan sejumlah pejabat pemerintah di Indonesia.
Dokumen ini mengungkap mengapa Supersemar lahir, bagaimana peran CIA, militer dan Soeharto, dan bagaimana dampak politiknya bagi Indonesia.
Sementara Roy Suryo memaparkan hasil analisanya terhadap beberapa versi dokumen Supersemar, termasuk rekaman pidato kenegaraan Bung Karno pada Peringatan Hari Ulang Tahu (HUT) ke-21 Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agusatus 1966. “Saya sudah bisa katakan, bahwa pidato Bung Karno yang tersimpan di Arsip Nasional itu asli. Saya sudah cocokkan semuanya,” kata Roy.
Karena itu, Roy menyatakan, dokumen Supersemar yang selama ini beredar itu bukan asli. Dokumen yang asli, pidato Bung Karno itu. “Kemungkinan besar dokumen aslinya tidak akan ditemukan lagi karena Semarnya sudarh tidak ada,” kata Roy sambil sedikit bercanda.
Roy juga menegaskan, dokumen yang diperoleh Roy terdiri beberapa versi, mulai dari versi berkop Kepresidenan, hingga naskah Supersemar yang terdiri dua halaman. “Dari beberapa versi itu, ada satu versi yang berkop Angkatan Darat,” katanya.
Roy meyakini Supersemar asli menggunakan kop Angkatan Darat. “Secara logika, dalam situasi seperti itu, tidak mungkin Bung Karno membawa kop surat Kepresidenan,” katanya.
Soekardjo Wilardjito dalam kesempatan itu memang tidak hadir sebagai pembicara, tapi duduk sebagai peserta diskusi. Meski demikian, sebagai saksi sejarah Supersemar, dia diberi kesempatan berbicara.
Dia menjelaskan, pada 2003 sempat didatangi petugas Arsip Nasional. Orang itu mengajak dia ke Jakarta, karena katanya, naskah asli Supersemar ditemukan oleh kemenakan Jenderal M. Yusuf di sebuah bank.
Namun Soekardjo tidak mau ikut. “Surat seperti itu kan biasanya diserahkan ke Sekretariat Negara, atau disimpan di Arsip Nasional. Memangnya itu deposito, kok disimpan di bank,” katanya disambut tawa peserta diskusi.
Meski sempat terganggu oleh kehadiran FAKI, namun seminar itu ditutup dengan damai. Aparat kepolisian, intel, Banser dan seluruh peserta pulang dengan lega. “Untung ada yang menjaga. Kalau tidak, mereka bisa liar,” ujar seorang guru, sambil beranjak keluar dari ruangan. LN IDAYANI
INDEKS BERITA LAINNYA :
|