|
Situs Bersejarah di Pasuruan Warisan Akhir Majapahit
Minggu, 09 Maret 2008 | 17:17 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Situs bersejarah yang ditemukan di lereng Gunung Ringgit, Dusun Godean, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu kemarin merupakan peninggalan masa akhir Kerajaan Majapahit, antara abad ke-14 dan 15. Keberadaan situs itu sudah diteliti sehingga dipastikan bukanlah temuan baru.
"Candi itu fungsinya untuk pemujaan terhadap dewa gunung atau arwah nenek moyang," ujar Blasius Suprapta, sejarawan dari Universitas Negeri Malang, Minggu (9/3).
Ia mengungkapkan bahwa sejarawan dari Belanda pernah melakukan penelitian percandian di kawasan Gunung Penanggungan (1.653 meter dari permukaan laut)/mdpl, Gunung Ringgit, dan sebagian lereng Gunung Arjuno (3.339 mdpl) sebelah timur. Di daerah itu memang banyak berdiri situs candi peninggalan masa akhir pemerintahan Kerajaan Majapahit, namun kebanyakan dalam kondisi rusak atau tidak utuh.
"Kami, dosen dan masiswa, pernah meneliti situs candi di Gunung Ringgit, Dusu Godean, itu pada 2001. Hasilnya, situs candi di sana karakternya sama dengan candi di lereng Gunung Penanggungan. Jadi, kesimpulan kami, candi
yang ditemukan warga itu bukan temuan baru," Blasius memastikan.
Waktu itu, kata Blasius, ditemukan sekitar empat candi yang saling berkaitan dengan candi utama Indrokilo?lebih dikenal sebagai tempat pertapaan?di lereng Gunung Arjuno. Candi yang ditemukan menyerupai "punden" (semacam
tempat keramat) berundak atau teras bertingkat, sama dengan yang ditemukan warga. Semakin naik ke atas Gunung Ringgit akan dijumpai bangunan "punden" berundak lagi.
Di bagian atas lokasi terdapat gua. Di dalam gua ini terdapat peninggalan megalitik masa prasejarah berupa batu "menhir" dan altar (tempat pemujaan).
Salah satu penyebab tidak utuhnya situs candi dan arca di lereng Gunung Ringgit, kata dia, karena penggundulan hutan sehingga letak candi dan arca berubah. Bahkan, batu "menhir" dipahat warga penganut aliran kepercayaan untuk
dijadikan patung resi. "Di tempat itu dulu terdapat arca dwarapala dan patung Dewa Siwa," katanya.
Nama dwarapala, kata dia, berasal dari bahasa Sansekerta, yang bermakna penjaga pintu atau pengawal pintu gerbang.
Ditemukannya bangunan "punden" berundak dan "menhir", kata dia, menandakan pemeluknya beragama Hindu dari sekte di luar keraton Majapahit sehingga ajarannya bercampur dengan unsur budaya masa megalitikum. Sedangkan orang-orang di keraton Majapahit umumnya memeluk agama Hindu dari India. "Mereka ini tergolong pemeluk Hindu yang fanatik," ujarnya.
Tidak terawatnya candi di Gunung Ringgit lantaran pemerintah tidak memiliki dana untuk melakukan perawatan. Perawatan diprioritaskan pada candi-candi yang masih utuh saja lantaran untuk kepentingan penelitian dan elestarian
budaya bangsa sudah sudah cukup representatif. Abdi Purmono
INDEKS BERITA LAINNYA :
|