|
Ratusan Peninggalan Purbakala di Jawa Timur Belum Dipugar
Senin, 10 Maret 2008 | 16:59 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Jumlah peninggalan purbakala di Jawa Timur meningkat dalam empat tahun terakhir. Pada akhir 2004 jumlahnya tercatat sebanyak 464 situs. Pada 1 Januari 2007, jumlahnya bertambah 92 situs menjadi 556 situs. Sebanyak 60 persen di antaranya berupa candi. Sisanya adalah makam dan masjid.
Namun, sekitar 445 situs atau 80 persen dari seluruh jumlah peninggalan belum dipugar. Hanya makam dan masjid saja yang kondisinya lebih terawat.
Kepala Pusat Informasi Majapahit di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPPP), Trowulan, Jawa Timur, Aris Soviyani mengungkapkan, seluruh peninggalan purbakala itu sudah mencakup warisan masa prasejarah, Hindu, Budha, hingga masa kolonial. Hampir semua lokasi peninggalan bersejarah itu sekarang sudah ada juru peliharanya baik yang berstatus pegawai negeri dan tenaga honorer. "Yang PNS (pegawai negeri sipil) jumlahnya sekitar 202 orang dan tenaga honorernya 400-an orang," kata Aris, Senin (10/3).
Aris melanjutkan, meski sudah ada juru peliharanya, bukan berarti mereka mampu mengurus seluruh peninggalan purbakala yang mereka awasi. Ini karena jumlah juru pelihara yang ada memang belum ideal untuk tiap lokasi. Rata-rata peninggalan purbakala, khususnya candi, diurus 1-2 orang juru pelihara. Ada juga yang sampai 5 orang, seperti di Kediri.
Kendala yang paling serius dan utama adalah dana. Setiap tahun BPPP Trowulan mendapat dana Rp 11 miliar. Uang sebanyak ini sudah termasuk untuk menggaji pegawai tetap dan tenaga honorer. Pegawai negeri sudah mendapat gaji lebih dari Rp 1 juta. Sedangkan tenaga honorer mendapat honor berkisar Rp 250 ribu hingga Rp 480 ribu.
"Kebanyakan dari uang Rp 11 miliar itu habis buat bayar gaji pegawai dan tenaga honorer. Gaji saya saja Rp 2,5 juta. Kalah dengan gaji wartawan. Sisanya ya buat biaya perawatan. Idealnya, setiap tahun kami butuh Rp 25 miliar," kata bekas Wakil Ketua Ikatan Arkeologi (IAI) Komisariat Jawa Timur itu, setengah bercanda soal gajinya sendiri.
Dengan anggaran yang terbatas, jangankan untuk memugar, untuk perawatan saja duitnya tak cukup sehingga perawatan menjadi tidak maksimal. "Tapi, bukan berarti kami tidak mampu berdedikasi, ya. Kalau ada juru pelihara yang kerjanya tak bagus, ya ditegur. Ada sanksi-sanksi tersendiri bagi juru pelihara yang malas dan lalai."
Seingat Aris, situs yang dirawat tapi belum dipugar adalah sembilan candi yang berada di lereng Gunung Arjuno (3.339 meter dari permukaan laut) dan 48 candi di Gunung Penanggungan, dan Candi Jago di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Untuk memugar satu candi rata-rata membutuhkan duit ratusan juta rupiah. Dulu, 2003-2004, dana pemugaran yang berasal dari pemerintah pusat rata-rata Rp 1 miliar.
"Uang itu tidak cukup. Pemugaran itu sangat pada volume pengerjaannya. Banyak aspek yang harus dikerjakan secara cermat dan mendetail sehingga butuh waktu yang lama pula, bisa sampai lebih dari setahun," katanya.
Pemugaran akhirnya diprioritaskan pada candi-candi yang komponen aslinya masih lumayan banyak, minimal 40 persen dan maksimal 80 persen. Tapi ini pun tak menjamin candi kembali ke bentuk aslinya lantaran ketidaksamaan persepsi antar-arkeolog.
Nilai jual candi juga diperhitungkan dengan merujuk pada akses jalan masuk. Repotnya, kebanyakan candi berlokasi jauh dari jalan raya; berada di dalam hutan dan lereng gunung.
Kendala lain, pihaknya sering berhadapan dengan warga perorangan maupun masyarakat desa yang memiliki dan menempati lahan tempat peninggalan purbakala ditemukan, yang meminta uang kompensasi lebih tinggi di luar anggaran. Abdi Purmono
INDEKS BERITA LAINNYA :
|