|
Peninggalan Purbakala di Pasuruan Penemuan Baru
Senin, 10 Maret 2008 | 19:46 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pusat Informasi Majapahit di Balai Pelestarian Peninggalan
Purbakala (BPPP) Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, memastikan bahwa temuan candi di lereng Gunung Ringgit, Dusun Godean, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, merupakan penemuan baru. Hal ini disampaikan
Aris Soviyani, Kepala Pusat Informasi Majapahit di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPPP), Trowulan, Jawa Timur, melalui sambungan telepon, Senin (10/3).
Menurut Aris, secara sederhana, penemuan candi dikatakan sebagai penemuan baru karena selama ini lokasi itu tertutup. Memang sudah pernah dilakukan penelitian di kawasan lereng Gunung Arjuno dan Gunung Penanggungan, tapi lokasi penemuan candi di Gunung Ringgit tergolong baru meski masih bertalian erat dengan peninggalan serupa di lereng Arjuno dan Penanggungan, yakni sama-sama merupakan warisan Kerajaan Majapahit.
"Candi-candi itu kan tertimbun dan baru kelihatan waktu digali warga di sana. Itu masih ada hubungan yang erat dengan candi-candi di Arjuno dan Penanggungan. Yang di Gunung Ringgit itu warisan akhir kerajaan Majapahit,"
kata bekas wakil ketua Ikatan Arkeologi (IAI) Komisariat Jawa Timur itu.
Pernyataan Aris berdasarkan keterangan dan foto-foto yang diberikan dan ditunjukkan warga Desa Dayurejo. Dilaporkan bahwa di sana ditemukan lima tumpukan batu dan arca yang tegak dalam satu lokasi. Bentuknya menyerupai gapura pintu masuk berukuran kecil.
Ada tiga candi yang ditemukan. Dua candi berukuran kecil dan pendek mengapit candi paling besar, yang setinggi 1,5 meter. Di bagian atas candi tertinggi ini terdapat potongan arca tak berkepala, yang diperkirakan merupakan wujud Dewa Wisnu. Di kiri-kanan arca terdapat patung setengah badan tanpa kepala pula, yang diperkirakan merupakan patung dua dewi.
Secara umum, situs tersebut dibuat dari batu andesit berundak. Tegakkannya mirip piramid, besar di bagian bawah, mengerucut ke atas. Ketiga candi dikelilingi jajaran batu mirip pagar, dengan luasan lahan 5 x 15 meter persegi.
"Kemungkinan, kalau digali lagi, masih terdapat bagian bawah yang terpendam. Tapi, untuk pastinya, kami sudah mengirim dua petugas arkeologi ke sana. Yang saya sampaikan masih sebatas dugaan atau asumsi. Nanti, kalau laporan dari lapangan sudah saya terima, Sampeyan saya beritahu," ujar Aris,berjanji.
Sejarawan dari Universitas Negeri Malang, Blasius Suprapta, juga memastikan penemuan candi di Gunung Ringgit merupakan temuan baru yang merupakan warisan akhir Kerajaan Majapahit.
Kemarin ia menyatakan itu bukan temuan baru karena belum mendapatkan informasi yang lengkap soal penemuan candi tersebut. Yang ia jelaskan kemarin lebih fokus pada kemiripan pada candi-candi itu dengan peninggalan
purbakala di kawasan Gunung Penanggungan dan lereng Gunung Arjuno, utamanya dengan kawasan Candi Indrokilo.
Kemiripan yang paling menonjol di antara candi-candi dan arca-arca yang tersebar di Penanggungan dan Arjuno terletak pada punden berundak, baik yang terdiri atas susunan halaman dan susunan bagian bangunan. Keduanya terdapat dalam zaman Majapahit.
Candi Sukuh dan Candi Ceta di lereng Gunung Lawu di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, Sedangkan yang termasuk jenis kedua yang bukan hasil rekayasa kaki candi adalah sejumlah candi tanpa nama yang bertebaran di
lereng-lereng Gunung Penanggungan. Salah satu yang terkenal adalah Candi Indrokilo. Abdi Purmono
INDEKS BERITA LAINNYA :
|