|
Pemerintah Kediri Tak Berani Pugar Makam Tan Malaka
Selasa, 11 Maret 2008 | 13:06 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Meskipun peringatan 59 tahun wafatnya Tan Malaka telah digelar di Bukittinggi, Sumatera Barat pada tanggal 20 Pebruari lalu, hingga kini Pemerintah Kabupaten Kediri, Jawa Timur belum berani melakukan pemugaran atau merubah keberadaan makam Tan Malaka di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Namun Pemkab Kediri siap menjalankan semua instruksi pemerintah pusat terkait makam tokoh sosialis yang terkenal dengan bukunya Madilog (materialisme, dialektik dan logika) itu jika ada instruksi pemerintah pusat.
"Saat ini kami hanya bisa bersikap pasif, menunggu instruksi pemerintah pusat soal soal makam Tan Malaka yang katanya berada di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri," kata Sigit Rahardjo, juru bicara Pemerintah Kabupaten Kediri, Selasa (11/3).
Sigit menegaskan, Pemkab Kediri siap mendukung semua langkah pemerintah pusat terkait makam Tan Malaka, asalkan semua data pendukung dan latar belakang sejarah dan validitasnya benar-benar bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Jika tidak ada data pendukung yang jelas, Pemkab Kediri akan bersikap pasif dan menunggu.
"Banyak kalangan yang meminta keterangan kepada kami seputar makam Tan Malaka di Desa Selopanggung. Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa karena kami sama sekali tidak memiliki data dan bukti pendukung soal makam Tan Malaka. Jadi kami untuk sementara memilih pasif saja," kata Sigit Rahardjo.
Bahkan menurut Sigit, dari hasil perbincangan dengan masyarakat Desa Selopanggung, banyak yang tidak tahu-menahu ikhwal lelaki kelahiran 2 Juni 1897 di Nagari Pandan Gadang, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat itu. Untuk itu Pemkab Kediri akan menunggu penjelasan detail dari pemerintah pusat, sebelum mengambil langkah apapun tentang makam lelaki yang bernama asli Sutan Ibrahim itu.
"Sepanjang persoalan makam Tan Malaka hanya bersifat kontroversi, kami akan bersikap pasif. Jika pemerintah pusat sudah memberikan detail tentang latar belakang sejarah dan petunjuk tentang apa yang kami lakukan, kami baru akan mengambil langkah," jelas Sigit.
Desa Selopanggung yang berada di kaki Gunung Wilis mencuat setelah Harry A Poeze meluncurkan buku berjudul "Vurguisden Vergeten, Tasn Malaka, De linkse Beweging en Indonesische Revolution 1945-1949" (Tan Malaka, Dihujat dan Dilupakan, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia 1945-1949). Buku tersebut diluncurkan di Jakarta pada akhir Juli 2007 lalu.
Dalam buku tersebut, Poeze menuliskan bahwa Tan Malaka tewas ditembak mati oleh Batalyon Sikatan Divisi Brawijaya pada tanggal 21 Pebruari 1949 di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Jenasahnya dimakamkan di desa yang berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Kediri. DWIDJO U. MAKSUM
INDEKS BERITA LAINNYA :
|