|
Ribuan Ayam di Yogyakarta Mati Akibat Flu Burung
Selasa, 11 Maret 2008 | 15:00 WIB
TEMPO Interaktif, Yogyakarta:Hingga minggu pertama Maret 2008 di beberapa wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah ditemukan ribuan ayam mati mendadak karena terinfeksi virus H5N1 atau virus flu burung.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Kehutanan Sleman, Suwandi Aziz, mengatakan sampai minggu pertama Maret 2008 di wilayahnya terdapat 637 kasus unggas mati terinfeksi H5N1. "Kasus tersebar rata di 17 kecamatan, Kabupaten Sleman," kata dia hari ini.
Dibanding tahun 2007, tambah Suwandi, kasus unggas mati tersebut mengalami peningkatan cukup signifikan. Selama 2007 jumlah unggas mati secara keseluruhan 1.956. "Ini baru bulan ketiga saja sudah 611," kata Suwandi.
Unggas mati mendadak dan positif terinfeksi virus flu burung juga terjadi di Kota Yogyakarta. Bulan Januari hingga Februari, setidaknya ada 54 ekor unggas (bebek dan ayam) mati mendadak dan positif terserang flu burung.
Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Zoonosa, Kantor Pertanian dan Kehewanan, Sri Kusniyati, mengatakan masyarakat belum sepenuhnya mengerti tentang apa yang harus dilakukan ketika ada unggas mati mendadak di sekitarnya. "Masyarakat seharusnya melaporkan jika ada kasus unggas mati mendadak," kata dia.
Tidak hanya di Sleman dan Kota Yogyakarta, kasus kematian unggas juga terjadi di Kabupaten Bantul. Sampai minggu pertama Maret 2008 ini, berdasar data Dinas Peternakan, Kelautan dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bantul, terdapat 347 ekor ayam mati mendadak yang tersebar di beberapa wilayah kecamatan.
Sri Budoyo, Kepala Subdinsa (Kasubdin) Kesehatan Hewan Dinas PKP Bantul menjelaskan, dibanding tahun sebelumnya kasus unggas mati mendadak tidak ada peningkatan yang berarti. "Unggas yang mati, yaitu ayam-ayam warga yang tidak dikandangkan," kata Sri Budoyo.
Untuk mengantisipasi merebaknya kembali wabah flu burung, baik Kabupaten Bantul maupun Sleman saat ini melakukan rapid test (tes cepat) dan vaksinasi terhadap unggas. Di Bantul, misalnya, saat ini pemerintah bekerja sama dengan kader-kader kesehatan hewan di masing-masing kecamatan menyalurkan 400 ribu vaksinasi ayam.
Walau flu burung kembali muncul, namun dunia peternakan di Yogyakarta tidak terpengaruh. "Tidak ada pengaruh terhadap peternak karena masyarakat sudah sadar dan tidak panik seperti dulu," kata Hari Wibowo selaku Ketua Asosiasi Peternak Yogyakarta (APAYO).
Hari mengakui 20 persen dari 500 peternak yang ada saat ini bangkrut. Namun bangkrutnya bukan karena flu burung, tetapi kenaikan harga pakan.
MUH SYAIFULLAH
INDEKS BERITA LAINNYA :
|