|
Atap Kelas Ambruk Menjelang Pelajaran Dimulai
Selasa, 11 Maret 2008 | 17:15 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Kreteg. Kreteg. Begitu suara yang terdengar Yesi Novianti, 30 tahun, penjual mi rebus saat jam menunjukkan pukul 5 pagi, ketika menyiapkan gerobak dagangannya di depan Sekolah Dasar Babakan Surabaya Utara, Jalan Kiaracondong Belakang Nomor 147, Kota Bandung. “Suaranya dari sana,” katanya menunjuk ruang Kelas VI SD Babakan Surabaya IX yang persis berada di belakang tembok tempatnya biasa mangkal. Ruang kelas yang menjadi tempat belajar 21 siswa itu porak poranda tertimpa genting dan balok kayu rangka atap yang ambruk, 20 menit sebelum jam belajar di mulai, Selasa (11/3).
Arzani Akbar, 52 tahun, guru Kelas VI di sekolah tersebut menyaksikan langsung detik-detik ruangan kelas tempatnya mengajar roboh. “Entah kenapa, hari ini saya ingin datang cepat-cepat ke sekolah,” katanya pada Tempo. Dia tiba pukul 06.20. Padahal biasanya dia datang beberapa menit menjelang masuk sekolah, pukul tujuh pagi.
Saat atap hendak rubuh, tuturnya, seorang siswa sedang berada di kelas. Sebelum rubuh, plafon atap kelas itu jatuh. Vina, satu-satuya siswa yang sedang berada di dalam kelas itu dimintanya keluar kelas. Akbar juga meminta siswa Kelas VI SD Babakan Surabaya Utara XII yang ruangannya berada persis bersebelahan untuk mengosongkan kelasnya. Beruntung setelah semua siswa keluar ruangan, atap kelas itu baru ambruk. Suaranya keras, mengejutkan seisi kompleks sekolahan.
Akbar masih merinding mengingat kejadian itu. Balok kayu utama penahan atap yang rubuh itu jatuh menimpa meja tempat duduknya di kelas itu. “Alhamdulillah tidak ada korban,” katanya.
Gara-gara kejadian itu, pengelola sekolah memutuskan mengosongkan dua ruangan kelas yang masih satu bangunan dengan kelas yang ambruk, yakni Kelas VI SD Babakan Surabaya Utara XII dan ruangan Kelas IV SD Babakan Utara IX. “Kami khawatir ruangan kelas itu ikut roboh,” kata Kepala Sekolah SD Babakan Surabaya IX Suraji.
Satu ruangan praktis tidak bisa lagi digunakan sementara dua kelas dikosongkan. Keadaan itu membuat pengelola sekolah kebingungan. Maklum kompleks sekolahan itu hanya mempunyai 15 ruangan, 14 ruangan dipakai tempat belajar mengajar, sementara satu ruang menjadi ruang bersama kepala sekolah dan para guru.
Ironisnya ruangan yang ada itu digunakan bersama-sama oleh 8 sekolah yakni, SD Babakan Surabaya I, II, III, VI, IX, X, XII, dan XIII. Pada hari biasa, untuk menyiasatinya pengelola sekolah membagi-bagi pemakaian ruangan sekolah itu menjadi kelas pagi dan kelas siang.
Pihak sekolah kini terpaksa meliburkan siswanya sampai Rabu (12/3) nanti. Setelah itu, papar Suraji, pihaknya terpaksa memberlakukan belajar darurat. “Sudah diputuskan tadi,” katanya. Caranya, paparnya, para siswa yang kelasnya roboh dan dikosongkan akan menempati ruangan kelas yang masih ada. Untuk menyiasatinya, terpaksa beberapa kelas akan dipadatkan waktu belajar mengajarnya menjadi 3 jam sehari.
Ahmad Fikri
INDEKS BERITA LAINNYA :
|