|
Tiga Bulan Paceklik, Nelayan Jember Serbu Pegadaian
Selasa, 11 Maret 2008 | 18:42 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sudah tiga (3) bulan lebih warga nelayan di pesisir pantai Puger, Jember, Jawa Timur mengalami masa paceklik. Selain minimnya tangkapan ikan, para nelayan juga harus bergelut dengan cuaca buruk di perairan Samudera Hindia di selatan kota Jember itu.
Akibatnya, ribuan warga pesisir selatan Jember itu mengalami kesulitan mencari nafkah, dan memilih mengadaikan barang-barang yang mereka dimiliki seperti perhiasan hingga sarung dan baju.
Menurut Manager Cabang Kantor Pegadaian Kecamatan Puger, Ahmad Aziz, tercatat sejak akhir bulan Desember 2007 lalu hingga kini, kantornya sudah dipenuhi oleh barang-barang milik nelayan sekitarnya. Aneka barang seperti perhiasan, barang elektronik (televisi, radio, kulkas, kipas angin, setrika dan kompor listrik), bahkan selimut dan pakaian kini menumpuk di gudang kantor pegadaian itu.
Banyak nelayan yang mengeluh, karena Pengadaian tidak mau menerima barang yang kondisinya di bawah 75 persen, terutama pakaian dan selimut. "Saya menggadaikan sarung dan jarik mereka ke luar ke Kabupaten Lumajang. Kemarin saya sendiri menggadaikan 4 jarik dan 2 selimut ke pegadaian Lumajang. Lumayan dapat hanya Rp 245 ribu," kata salah seorang nelayan Puger Wetan, Ahmad Yani (35).
Tak pelak, dana yang dikeluarkan oleh pihak pegadaian terbilang tinggi. Pada bulan Januari 2008 mencapai 1,2 miliar, bulan februari 2008 sebanyak Rp. 1,15 milyar, dan sealama awal bulan maret 2008 ini tercatat sudah mencapai 0,5 milyar."Mungkin saja ini masih akan terus bertambah. Soalnya tangkapan ikan masih sepi,"kata Aziz saat ditemui TEMPO di kantornya, Selasa (11/03).
Mulai awal tahun ini, kata Aziz, pihak Pegadaian Puger menerapkan kebijakan tidak menerima sarung dan jarik milik nelayan yang kondisinya di bawah 75 persen. "Memang kita tolak, karena kita juga berhitung bisnis, kalau kita terima, lalu tidak di tebus, kita harus bisa menjualnya. Kalau tidak, kita akan rugi," katanya.
Pantauan TEMPO sejak pagi hingga siang di kantor pegadaian Puger, hampir setiap menit, nampak istri para nelayan Puger datang keluar masuk kantor Pegadaian yang terletak di sisi timur alun-alun Kecamatan Puger itu.
Salah seorang perempuan Ny. Maisaroh (35) tampak menggendong anak keduanya yang masih berusia 5 bulan.Dia datang ke Pegadaian membawa 6 helai jarik (sarung/kain perempuan) untuk digadaikan. "Kalau tidak begini, tidak bisa beli beras buat makan. Suami sudah tidak bisa melaut sejak 2 bulan lalu.Nanti barang ini akan kita tebus setelah jatuh tempo, saat lelangan empat bulan yang akan datang," ujarnya polos.
Dampak lain dari kondisi tersebut aktifitas Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger juga sepi. Dari sekitar 43 pedagang, yang buka hanya 4 orang pedagang saja. Para nelayan memilih menanti kondisi cuaca bersahabat. Mayoritas memilih "memarkir" ribuan perahu di bibir pantai sambil memperbaiki perahu atau jaring. Untuk memenuhi kebutuhan mereka, para nelayan harus berhemat dan terkadang dengan ngutang kesana kemari.
Salah seorang tokoh nelayan Puger, Ahmad Edy (40) mengatakan, para nelayan setempat mengharap bantuan pemerintah Kabupaten Jember agar memberikan kegiatan yang bisa menghasilkan uang kepada warga nelayan. "Kami tidak minta uang, karena kalau warga kami diberi uang, berapapun akan habis, tolong kasi kami pekerjaan, setelah itu tolong diupah dengan sewajarnya, sekali lagi kami tidak minta bantuan uang, kami butuh pekerjaan," katanya.
Mahbub Djunaidy
INDEKS BERITA LAINNYA :
|