|
Kelangkaan Minyak Tanah Masih Terus Berlanjut
Rabu, 12 Maret 2008 | 14:55 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Kelangkaan minyak tanah (mitan) yang terjadi sejak akhir Pebruari lalu hingga hari ini, rabu (12/3) di Kota Surabaya, masih berlanjut. Antrean panjang masih tampak disejumlah pangkalan, seperti Jalan Pogot, Jalan Tanah Merah, Jalan Tambah Rejo, Jalan Patmosusastro dan Jalan Kampung Malang Tengah. Antrean juga terjadi di Kecamatan Asemrowo, Wonokromo dan Krembangan.
Bahkan antrean disetiap pangkalan rata-rata terjadi sebelum matahari terbit. Mereka memasang jrigen yang diikatkan pada sebuah tali, sehingga memanjang dari drum penjual mitan sampai tak terbatas. "Saya antre mulai subuh. Sampai sekarang belum sampai ke penjual," kata Ny Sulastri sambil melihat jam tangan yang menunjukkan saat itu pukul 11.50 WIB.
Menurutnya harga mitan ditingkat eceran sangat tinggi mulai Rp 3500 sampai Rp 4 ribu perliter. Padahal setiap hari dirinya membutuhkan 3-5 liter mitan. Mitan tersebut digunakan untuk memasak nasi dan kebutuhan lainnya. Maklum setiap hari Ny Sulastri harus menghidupi keluarganya dengan membuka warung giras di daerah Jalan Kapas Krampung yang berjualan macam-macam makanan.
Ny Sulastri adalah salah satu warga yang rela antre berpanas-panasan di bawah matahari terik di pangkalan mitan Jalan Tambah Rejo, Kecamatan Tambaksari. Setiap hari ratusan ibu-ibu dari berbagai kelurahan di Kecamatan tersebut antre mitan. Bahkan mereka sudah datang sebelum mobil tanki pengiriman tiba dilokasi. "Di sini setiap hari antre. Jadi sudah biasa," jelas Heri Suwito, pemilik pangkalan.
Menurutnya, seminggu lima kali dirinya mendapatkan jatah mitan 5 ribu liter setiap kali kirim. Mitan itu ia jual seharga Rp 2400/liter. Itupun setiap warga hanya di jatah 5 liter. Meski hampir setiap hari, namun antrean tidak pernah surut. Setiap hari ibu-ibu dan bapak-bapak bahkan anak-anak ikut antre. Mereka tidak hanya dating dari Kecamatan Tambaksari, tapi juga dari kecamatan lain.
Asisten Manager bidang Humas Pertmina Surabaya, Harry Prasetya Hadi, menjelaskan hari ini pihaknya melakukan operasi pasar di tiga kecamatan di Surabaya, yakni Kecamatan Wonokromo, Krembangan dan Asemrowo. Totalnya mencapai 15 kiloliter. Bahkan sehari sebelumnya pertamina menggerojok 35 kiloliter. "Tapi tetap saja antrean terjadi. Karena masyarakat malas pakai LPG yang sudah dijatah," paparnya.
Herry mengakui, pertamina telah mengurangi jatah mitan untuk kota Surabaya. Sebelum dilakukan konversi mitan ke LPG, Surabaya mendapat pasokan 1000 kiloliter lebih setiap harinya. Namun sejak konversi mitan, pertamina mengurangi sekitar 400 kiloliter sehingga saat ini pasokan mitan di Surabaya hanya sekitar 600 kiloliter/hari. "Namun kita akan terus melakukan operasi pasar sampai kondisi normal," ujarnya. adi mawardi
INDEKS BERITA LAINNYA :
|