|
Ditengah Pelantikan Bupati, Warga Gotong Royong Bangun Tanggul Karung Pasir
Rabu, 12 Maret 2008 | 17:01 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Ditengah ancaman banjir, pemandangan Kota Bojonegoro, Jawa Timur, jadi kontras. Ketika terjadi prosesi pelantikan Bupati Suyoto-Wakil Bupati Bojonegoro, Setyo Hartono, warga kota ini sibuk orong royong dengan memasang tanggul dari karung pasir.
Kerumunan warga di Kampung Ledok Kulon, Kota Bojonegoro, tampak sibuk mengusung belasan karung berisi pasir. Mereka menimbun karung warna putih itu dan kemudian meletakkan di sela-sela tanggul depan rumah mereka. Tanggul setinggi rata-rata 1 meter itu, membentang sekitar 2 kilometer dari Jl Rajawali, Jl MH Thamrin, hingga di Jl Mas Mansyur.
Mereka sadar, celah-celah di tanggul itu, setidaknya bisa meredam luberan air dari Bengawan Solo yang kini tengah meluap. Gotong royong antar warga yang tinggal di bantaran sungai terpanjang di Pulau Jawa ini, dilakukan serempak. Mereka tidak ingin kejadian pahit, awal tahun 2008 lalu, dimana tanggul jebol akibat derasnya air dari sungai.
Munaji, warga Ledok Kulon, mengaku banjir pekan ini, memang airnya tidak setinggi banjir bulan lalu, yang mencapai 1,8 meter di perkampungan penduduk. Tetapi, pelajaran pahit dengan tidak terlalu percaya akan kekuatan tanggul, juga berakibat fatal. Terbukti, tanggul di Jl Thamrin, jebol sepanjang 7 meter yang merendam warga kota. ?Makanya kita gorong royong, memasang karung pasir,? tegasnya.
Di kampung Ledok Kulon, Klangon, Ledok Wetan, Jetak dan sekitarnya memang dikenal sebagai kampung langganan banjir. Lokasi kampung itu, tepat berada di bantaran sungai Bengawan Solo. Tercatat lebih dari 2000 rumah yang lokasinya di dalam tanggul. Rumah-rumah itulah yang secara otomatis menjadi penyelamat warga kota ini. Sempat muncul suara untuk relokasi perumahan penduduk. Tetapi, upaya itu menjadi pekerjaan rumah paling berat Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, mengingat status tanahnya sebagian besar sudah bersertifikat. ?Kita ini memilik rumah sudah lebih dulu dibanding pembangunan tanggul,? tegas Munaji, yang menolak upaya relokasi rumah tersebut.
Sadar dengan posisi perkampungan, warga di empat kampung tersebut, kerap satu suara dan rukun. Setidaknya, ketika musim banjir datang. Mereka kerap mengungsi bersama di penampungan, atau harus bersih-bersih lumpur bersama ketika banjir surut.
Suasana letih dan cemas tergambar di lokasi penampungan di Gedung Serba Guna Jl Mas Mansyur, Kota Bojonegoro. Di gedung besar itu, tampak pengungsi berkerumun. Tercatat lebih dari 300 orang, termasuk orang tua dan anak-anak mendiami ruangan mulai Selasa, siang kemarin. Mereka bagian dari warga Ledok Kulon dan Ledok Wetan, yang lokasi rumahnya terendam air Bengawan Solo.
Nyonya Dwi Astutik, 40 tahun, mengaku, selama tiga bulan ini, dia dan keluarganya sudah dua kali ini mengungsi di penampungan Gedung Serba Guna. Rumahnya, di RT 3 RW 1, sudah terendam air setinggi 1,5 meter. Dua anaknya, otomatis juga ikut.
Padahal, rasa pedih akibat banjir besar tahun baru 2008 lalu, belum juga berakhir. Saat itu, bahkan rumahnya terendam banjir hingga lebih dari 8 hari lamanya. Mau tidak-mau, selama itu pula, dia berada di penampungan. Sejumlah perabot, barang elektronik miliknya juga rusak. ?Kini, ketika keluarga kami mencicil barang elektronik untuk beli baru, kok banjir datang lagi,? tandas perempuan bertubuh kurus ini.
Di tengan ancaman banjir itu, Bojonegoro kini tengah bersuka riang. Saat bersamaan, di komplek kantor Kabupaten Bojonegoro, tepatnya di Pendopo Malowopati, Gubernur Jawa Timur, Imam Utomo, atas nama Menteri Dalam Negeri melantik Suyoto sebagai Bupati Bojonegoro dan Setyo Hartono sebagai Wakil Bupati Bojonegoro periode 2008-2013.
Ratusan aparat keamanan dari Polres Bojonegoro dan Polwil Bojonegoro, termasuk dari Gegana, siap di depan pintu masuk komplek kantor kabupaten ini. Pelantikan bupati-wakil bupati pemenang Pilkada Bojonegoro yang digelar 10 Desember 2007, ini menjadi sangat kontras. Kontras karena, pelantikan yang serba resmi ini, di tengah-tengah suasana cemas ancaman banjir.
Masalah penanganan banjir, memang menjadi catatan penting pemerintahan Bupati Suyoto. Setidaknya, untuk tahun ke depan, tentu pendanaan untuk perbaikan infrastruktur harus diupayakan. Menurut Ketua DPRD Bojonegoro, Tamam Syaifuddin, Bupati-Wakil Bupati terpilih, harus mengagendakan penanganan banjir. "Itu syarat mutlak. Setidaknya, pada APBD 2008 ini, anggaran untuk infrastruktur dan dana banjir harus ditingkatkan. Kita punya APBD Rp 899 miliar tahun ini," tegasnya.
Suyoto, Bupati Bojonegoro ini, menjawab enteng. Usai dilantik, pria yang sehari-hari menjadi dosen di sejumlah perguruan tinggi di Jawa Timur ini, menjawab tenang. "Ya, prioritas banjir tetap kita upayakan. APBD tetap berpihak ke rakyat," tegasnya.
Janji Suyoto, terhadap keberpihakan APBD untuk rakyat, sudah ditegaskan ketika kali pertama menyampaikan visi dan misi saat maju menjadi calon Bupati Bojonegoro. Kini, setelah terpilih, rakyat pun ingin membuktikan janjinya.
Sujatmiko
INDEKS BERITA LAINNYA :
|