|
Isu Bakteri Sakazakii Resahkan 36.500 Peternak Sapi Perah
Rabu, 12 Maret 2008 | 19:24 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Muncul dan merebaknya isu Enterobacter sakazakii yang mencemari susu formula hanya membuat resah 36.500 peternak sapi perah di Jawa Timur, namun tidak sampai mempengaruhi produksi dan penjualan susu segar.
"Pengaruhnya cuma sampai taraf keresahan saja. Tapi sekarang saya dan para peternak sudah tenang. Kegiatan produksi terus berlanjut. Produksi dan penjualan susu dari Jawa Timur masih stabil dan aman, kok," kata Sulistyanto kepada Tempo lewat telepon, Rabu (12/3) petang.
Menurut Manajer Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jawa Timur itu, isu itu tetap harus diwaspadai dan menjadi peringatan bagi 36.500 peternak dan industri persusuan agar tetap meningkatkan kualitas. Hikmah dari merebaknya isu bakteri sakazakii itu yakni betapa sebagai citra susu sebagai nutrisi penjamin kesehatan atau sebagai makanan sehat gampang sekali terkena citra buruk.
"Isu itu harus ditanggapi dengan tenang. Tidak usah pakai marah-marah. Salah satu cara yang paling efektif, ya, meningkatkan kualitas produksi sehingga memberi dampak positif pada kesehatan pangan dan citra pangan. Dinas Perternakan Jawa Timur sudah menyatakan susu segar kami aman," katanya.
GKSI telah menjelaskan berbahaya-tidaknya bakteri sakazakii pada seluruh peternak. Ia menyesalkan penelitian yang dilakukan peneliti Institut Pertanian Bogor tentang bakteri sakazakii yang, menurutnya, tidak memberikan solusi yang memadai.
Hasil penelitian itu justru membahayakan di saat banyaknya kasus bayi kekurangan gizi gara-gara kurang mengonsumsi susu. Jika keadaan ini dibiarkan, ia memperkirakan, lima tahun ke depan kualitas manusia Indonesia tambah merosot.
"Itu karangan peneliti saja; sebuah karangan ilmiah yang bertendensi membodohkan anak-anak bangsa. Ini berbahaya, lho," katanya lagi lewat pesan pendek.
Saat ini produksi susu segar di Jawa Timur mencapai 700-an ton per hari. Sekitar 60 persen di antaranya diserap PT Nestle Indonesia di Kejayan, Kabupaten Pasuruan. Susu sebanyak ini dihasilkan 135 ekor sapi perah, dengan jumlah peternak 36.500 orang. Wilayah Malang Raya (kota dan kabupaten Malang, plus Kota Batu) menjadi produsen susu segar terbesar di Jawa Timur, dengan produksi mencapai 50 persen lebih dari total produksi.
Harga susu pun masih bertahan dalam kisaran antara Rp 2.800 sampai Rp 3 ribu per liter. Ini harga di tingkat peternak. Bahkan, harga susu peternak dihargai Nestle sebesar Rp 3.300 per liter atau naik Rp 500 dari harga semula Rp 2.800. Harga dari Nestle ini pun masih lebih tinggi dari harga penetapan pemerintah sebesar Rp 2.925 per liter.
Peternak mendapat Manajer Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jawa Timur, menyatakan pihaknya telah sukses merevisi kontrak harga jual susu segar pada PT Nestle Indonesia di Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan, sebesar Rp 3.300 per liter dari semula Rp 2.800 per liter.
Sebelumnya, secara terpisah, Abdi Swasono menguatkan pernyataan Sulistyanto. Menurut Ketua Koperasi SAE Pujon, Kabupaten Malang, ini, permintaan susu segar yang dihasilkan pihaknya sama sekali tidak terpengaruh. Setiap hari koperasi susu terbesar di Jawa Timur ini menghasilkan 85 ton susu segar ke Nestle di Pasuruan.
Dengan jumlah setoran susu sebanyak itu pihaknya menjadi pemasok susu terbesar bagi Nestle. Ada juga 750 liter susu segar yang dijual pada masyarakat. Total susu sebanyak ini diperoleh dari sekitar 10 ribu ekor sapi perah, dengan 7.400 peternak.
"Nestle dan Greenfield itu IPS (industri pengolahan susu) berskala internasional dan tentu saja sudah menerapkan standar kualitas yang tinggi sesuai standar penerimaan susu internasional. Kalau Nestle dan Greenfield masih mau menerima susu kami, berarti kami aman," katanya. Abdi Purmono
INDEKS BERITA LAINNYA :
|