Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

TKW Asal Jember Lima Tahun Hilang di Arab Saudi
Rabu, 12 Maret 2008 | 20:04 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Jember-Jawa Timur, hilang selama lima (5) tahun di Arab Saudi. Dia adalah Siti Nabawiyah (48) asal Desa Gumelar Kecamatan Balung Kabupaten Jember. Hingga kini, keluarganya di Jember tak bisa mendapatkan informasi keberadaannya.

Akhirnya, pada Rabu (12/03) siang, anak perempuannya,Siti Mulazima (27) melapor ke kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jember. Mulazima melapor karena pihak keluarga kehilangan kontak dengan Nabawiyah sejak lima tahun lalu. Dia juga juga tidak pernah mengirimkan kiriman uang untuk keluarganya.

Muzalima juga menduga sang ibu disekap di tempat kerjanya di Arab Saudi. Kepada TEMPO, Mulazima menuturkan jika ibunya telah berangkat ke Arab saudi pada tahun 2003 melalaui PJTKI PT Andromeda Graha - Malang. Nabawiyah direkrut oleh Unit Pelaksana Penyuluhan dan Pendaftaran Calon Tenaga Kerja Indonesia (UP3CTKI) PT Andromeda Graha di Jember, Maon Ismanto warga Desa Pondokdalem Kecamatan Semboro."Ibu saya berangkat tahun 2003 melalui calo pak Maon dengan membayar Rp 900.000," katanya.

Satu bulan setelah Nabawiyah bekerja di negeri kaya minyak itu, Muzalima masih mendapatkan kabar dari ibunya melalui sebuah surat. Namun rupanya surat itu menjadi surat pertama dan terakhir. Hingga detik ini tidak pernah ada kabar lagi dari sang ibu. "Padahal saya sudah tiga kali berkirim surat kepada ibu melalui alamat yang ada di suratnya dulu," tambahnya.

Tiga tahun tanda kabar, tiba-tiba pada suatu hari di bulan puasa tahun 2006 Nabawiyah menelepon keluarga. Nabawiyah menelepon dari kantor PT Andromeda di Arab Saudi. "Waktu itu ibu bilang bahwa akan segera pulang karena di rumah majikannya dia tidak boleh keluar rumah. Tetapi akan pulang setelah gajinya dibayar," kata Muzalima. Saat itu, menurut pengakuan Nabawiyah, dirinya bisa keluar rumah karena ditolong seorang syeikh. Namun lagi-lagi itu merupakan telepon pertama dan terakhir dari Nabawiyah untuk keluarganya di Jember. Hingga saat ini ibu dua anak itu tidak pernah memberi kabar lagi.

Karena merasa khawatir, Muzalima mencoba meminta keterangan dari Maon Ismanto baik dengan mendatangi secara langsung maupun bertanya melalui ponselnya. "Katanya belum ada kabar dari ibu dan kami disuruh menunggu," lanjutnya. Bahkan pihak keluarga juga telah menghubungi telepon majikan Nabawiyah di Arab saudi. Terakhir, Muzalima mengaku menghubungi nomor tersebut satu minggu lalu. "Tetapi langsung selalu ditutup dan sampai sekarang tidak ada kabar lagi dari ibu. Saya takut ibu menjadi korban kekerasan di sana," katanya.Muzalima bersama dengan keluarganya hanya berharap kabar ibunya segera diketahui. Kalau sudah diketahui keberadaan ibunya, keluarga meminta ibunya agar dipulangkan saja.

Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Jawa Timur, M Cholily yang mendampingi Muzalima ke kantor Disnakertrans Jember mengatakan, pemerintah harus segera mengirim surat kepada KBRI di Arab saudi untuk menanyakan kabar Nabawiyah. "Apalagi sudah jelas bahwa dia itu TKW yang berdokumen atau legal," katanya. Upaya itu, lanjutnya, harus dilakukan pemerintah untuk mengetahui kabar Nabawiyah.

Selain meminta keterangan dari pihak KBRI, pemerintah juga harus mengupayakan hak-hak Nabawiyah terpenuhi. Hak Nabawiyah yang belum terpenuhi adalah gajinya yang tidak pernah dibayar. Pihak Disnakertrans Pemkab Jember, lanjutnya, juga harus menegur PJTKI yang membernagkatkan Nabawiyah karena telah menelantarkan perempuan itu.

Sementara pihak Kepala Bidang Penempatan dan Pelatihan Tenaga Kerja Disnakertrans Jember, M Hasyim mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menelusrui keberadaan Nabawiyah. Nabawiyah merupakan satu dari sekian korban kasus trafiking atau perdagangan orang. Untuk tahun 2008 ini, SBMI Jember melaporkan 10 kasus trafiking yang terjadi pada TKW asal Jember ke Disnakertrans. "Mereka terdiri dari korban kekerasan, penipuan dan perekrutan yang tidak prosedural," kata Cholily.
Mahbub Djunaidy


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk119133 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< March,2008>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data