|
Pertamina Akan Batasi Pembelian Minyak Tanah di Surabaya
Kamis, 13 Maret 2008 | 19:12 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Pertamina area Surabaya akan membatasi pembelian minyak tanah bagi warga. Hal ini untuk menekan semakin parahnya antrean minyak tanah yang akhir-akhir ini terjadi di kota tersebut.
"Berbagai upaya termasuk operasi pasar sudah kita lakukan, hasilnya minyak tanah di Surabaya masih ngantri," kata Maulana Tazi, General Manager PT Pertamina region 5 yang membawahi Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara, dihadapan beberapa anggota Komsi D DPRD Surabaya, Kamis (13/3).
Di Surabaya, OP yang digelar Pertamina, tiap harinya sudah mencapai 305 kilo liter atau setara dengan 3050 liter dan sudah dilakukan sejak awal terjadinya antrean yaitu pada 26 Februari lalu. Namun hingga saat ini antrean minyak tanah masih terus terjadi dihampir semua pangkalan di Surabaya.
Anehnya, lanjut Maulana, antrean panjang minyak tanah tidak hanya terjadi di daerah yang sudah terkonversi ke gas atau Kecamatan yang jatah minyak tanah memang sudah dikurangi, namun juga di daerah-daerah yang belum tersentuh konversi. Di Surabaya sendiri dari 31 Kecamatan, baru 6 Kecamatan yang telah dilakukan konversi dari minyak tanah ke gas.
Untuk daerah yang terkonversi, Pertamina memang telah melakukan upaya penarikan minyak tanah sejak 17 Februari lalu dengan total penarikan hingga saat ini sebanyak 4940 kilo liter. Sementara suplai minyak tanah diluar daerah yang terkonversi hingga saat ini masih tetap sama seperti sebelumnya yaitu 1015 kilo liter perhari.
"Jatah masih sama plus OP tapi kok masih langka, setelah kami selidiki, ternyata banyak warga yang sudah dapat LPG tapi tetap memborong minyak tanah dari pangkalan diluar daerahnya," tambah Maulana.
Tak heran jika berapapun jumlah OP yang digelontorkan Pertamina, tetap tidak akan bisa mengurai antrian panjang minyak tanah. Apalagi, banyak pula warga yang kedapatan melakukan penimbunan minyak tanah karena adanya isu akan naiknya harga.
"Karennya, kami akan berikan sistim kupon untuk warga, sehingga hanya warga disekitar pangkalan yang bisa membeli dengan jumlah pembatasan pembelian yang akan dirumuskan, sedangkan warga dari daerah yang sudah terkonversi silahkan untuk gunakan LPG yang sudah didapatkan," tutur Maulana.
Sementara itu, panik buying yang dilakukan warga Surabaya, menurut Ketua Komisi D DPRD Surabaya Ahmad Jabir, semata karena kurang siapnya Pertamina dalam melakukan program konversi. "Jangan hanya salahkan warga, kalau sosialisasi dari Pertamina baik saya kira warga yang sudah dapat LPG akan segera meninggalkan minyak tanah," kata politisi dari PKS ini. Apalagi, dana untuk sosialisasi konversi di Surabaya, menurut Jabir tergolong besar karena mencapai Rp 1,47 miliar.
Sosialisasi yang dilakukan Pertamina, menurut dia, harusnya juga bisa menggandeng tidak hanya sampai aparat kelurahan tapi juga hingga RT/RW dan juga ibu-ibu PKK dikampung-kampung. Penarikan jatah minyak tanah di daerah terkonversi juga harus dilakukan tidak sekaligus.
"Harusnya jatah minyak tanah tidak langsung ditarik setelah terkonversi. Tapi dipastikan dulu apakah warga yang sudah terima tabung benar-benar menggunakannya," kata Jabir. Rohman Taufiq
INDEKS BERITA LAINNYA :
|