Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ratusan Pedagang Daging di Bandung Mogok
Kamis, 13 Maret 2008 | 22:47 WIB

TEMPO Interaktif, Bandung:
Ratusan pedagang dan bandar daging sapi di Kota Bandung mogok berjualan mulai Kamis (13/3) ini. Aksi mogok tersebut rencananya akan berlangsung dua hari hingga Jumat besok.

Ketua Asosiasi Pedagang Daging Sapi dan Sapi Potong Seluruh Indonesia (Apdasi) Jawa Barat, Dadang Iskandar, menyatakan aksi mogok digelar untuk menuntut peningkatan harga daging sapi lokal di pasar.

Aksi mogok ini, kata dia, murni aspirasi sekitar 1.000 pedagang eceran dan bandar daging sapi serta sapi potong di Kota Bandung.

“Daging impor di supermarket Rp 39.500 per kilogram, sedangkan kami beli daging lokal beserta tulang-tulangnya, karkas, Rp 41 ribu per kilo,” ucap Dadang di kantor sekretariat Apdasi Jawa Barat.

Akibatnya, kata Dadang, pemotong dan bandar mengalami kerugian Rp 200 ribu sampai Rp 400 ribu per ekor sapi. “Jelas itu persaingan tidak sehat dan merugikan anggota kami.”

Dadang mengakui, harga daging memang ditentukan mekanisme pasar. Namun, lanjut dia, ada masalah yang membuat persaingan pedagang daging lokal dengan daging impor berlangsung tidak sehat.

Menurut dia, dari 250 ekor sapi yang dipotong di Kota Bandung per hari, sekitar 60 persen berupa sapi potong impor dari Australia. “Kalau tidak ada penyesuaian harga di tingkat konsumen atau pengecer, kerugian akan berjalan terus,” katanya. “Kami juga menuntut supaya penjualan daging sapi impor ditutup saja.”

Meski Apdasi sudah mengumumkan agar seluruh pegusaha daging sapi di Bandung mogok, namun ada saja pedagang yang tetap berjualan di beberapa pasar seperti di Pasar Baru Kota Bandung. “Tapi mereka itu hanya berjualan daging sisa kemarin saja,” Dadang berkilah. Dia berharap konsumen daging sapi memaklumi aksi mogok yang dilakukan anggotanya.

Kenyataannya tidak semua pengusaha daging sapi sepakat melakukan aksi mogok. Contohnya Yaya, manajer umum di rumah pemotongan hewan (RPH) Cirangrang Bandung.

Meski setuju penyesuaian harga daging sapi dan penutupan impor sapi,Yaya mengaku sangat keberatan dengan aksi mogok yang digelar sebagian besar kolega sesama pengusaha daging sapi. “Sehari mogok saja, RPH kami bisa rugi sampai Rp 63 juta,” katanya.

Itulah sebabnya, Yaya bersama sejumlah pedagang yang tidak setuju aksi mogok mendatangi sekretariat Apdasi Kota Bandung dan Jawa Barat Kamis siang tadi. “Kami datang untuk memprotes aksi mogok oleh Apdasi, besok kami akan kembali memotong sapi,” katanya. Erick Priberkah Hardi


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Pemerintah Perbaiki Tata Niaga Daging Sapi
Daging Sapi Menghilang di Bekasi
Ratusan Kilo Daging Tidak Layak Konsumsi Disita
Harga Daging dan Telur Ayam Naik
Menjelang Lebaran Harga Daging Meroket
Polisi Ringkus Komplotan Pembuat Daging Sapi Gelonggongan
Ribuan Kaleng Daging Sapi Impor Dimusnahkan Di Bandung
Daging Glonggongan dan Bangkai Ayam Masih Beredar di Solo
Stok Daging Bulan Puasa dan Lebaran di Tangerang Aman
Departemen Pertanian Rencana Impor Daging Unggas Tanpa Tulang
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk119227 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Rumah Duka Sophan Sophian Dikerumuni Wartawan
Menabrak Pakem Seni Trimatra
Sophan Meninggal Dalam Perjalanan Ke Rumah Sakit
Sophan Sophian Ingin Jadi Duta Besar
Keluarga Sudah Menerima Kabar Sophan Sophian Meninggal

<< March,2008>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data