|
Tanggul di DAS Bengawan Solo di Eks-KaresidenanBojonegoro
Jum'at, 14 Maret 2008 | 16:39 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sejumlah tanggul yang membentingi di Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo di sejumlah kota di Bojonegoro, Tuban dan Lamongan, Jawa Timur, mengkhawatirkan. Terbukti, selama tiga bulan terakhir, beberapa titik di tanggul yang mengikuti aliran sungai ini terpanjang di Pulau Jawa ini, jebol.
Evaluasi dari Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo di Eks-karesidenan Bojonegoro, menyebutkan, tercatat sedikitnya lima titik tanggul jebol selama banjir musim hujan tiga bulan terakhir ini. Yang terparah, misalnya tanggul sepanjang 200 meter lebih, jebol, yang terjadi di Desa Tegalsari, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban. Tanggul itu jebol pada banjir yang terjadi awal tahun baru 2008 lalu.
Dampak dari jebolnya tanggul di Tegalsari, Widang ini, seperti diketahui, membuat jalur ke pantai utara yang melewati Babat-Widang-Tuban, tutup total. Pasalnya, air menggenangi sekitar satu meter, jalur yang berdekatan dengan Pondok Pesantren Langitan, Tuban ini.
Kemudian, tanggul di Desa Plang Wot, Kecamatan Laren,
Kabupaten Lamongan dimana terdapat 270 meter tanggul
sudetan Bengawan Solo, juga jebol. Kondisi ini, juga
diperparah dengan adanya pendangkalan di beberapa titik sudetan di daerah tersebut, yang berakibat arus air di hilir sungai tidak lancar. ?Air jadi berputar-putar, sehingga arus banjir tidak lancar menuju ke hilir,? tegas Moelyono, Koordinator Penanggulangan Bencana, BPSDA Eks-karesidenan Bojonegoro pada Tempo, Jumat (14/3) siang.
Kemudian, tanggul jebol di Bengawan Solo juga terjadi di saluran sekunder yang mempertemukan antara irigasi Talun yang menghubungkan ke Wadul Pacal, menuju ke tanggul Negara di Kecamatan Kanor, Bojonegoro. Tanggul ini, jebol pada Kamis, (13/3) siang, sepanjang 30 meter.
Akibatnya, air menggenangi sedikitnya 7 desa di Kecamatan Kanor, di antaranya di Desa Kanor, Pilang, Kedungarum, Temu, Prigi, Kedungprimpen dan Sembaru. Kemudian, dua di antaranya desa di Kecamatan Baureno, seperti Desa Kedungrejo dan Desa Pucang Arum. Air genangan juga mengancam sedikitnya 4100 hektare tanaman padi yang baru berumur antara 15 hingga 20 hari.
Pihak BPSDA Bojonegoro, untuk tahun ini, akan melakukan rehabilitasi di sejumlah titik tanggul yang rawan jebol. Beberapa titik tanggul yang rawan jebol, seperti di beberapa tempat di Kecamatan Kota Bojonegoro. Seperti di kampung Ledok Kulon dan Ledok Wetan. Program perbaikan tanggul ini, dijadwalkan menggunakan dana dari APBN, berikut tambahan dari APBD setempat, lewat Dinas Kimpraswil dan Dinas Pekerjaan Umum. ?Sektor yan digarapnya, akan dipadukan,? tegas Moelyono.
Sementara itu, banjir susulan di hilir Bengawan Solo, kini mulai menggenangi jalan di jalur ke pantura-- di
Kecamatan Widang. Ketinggian air di jalan aspal, telah
mencapai 5 hingga 10 centimeter. Belum ada kepastian,
apakah jalur di lintas provinsi yang menghubungkan antara Lamongan-Tuban, Jawa Timur- hingga ke Rembang, Jawa Tengah ini akan ditutup. ?Ya, kita lihat kondisi airnya,? tegas Bambang Dwijono, Camat Widang, Tuban.
Dia menyebutkan, masalah proyek perbaikan tanggul, pihaknya meminta agar ditangani secepatnya. Dia
menyebut, tanggul di Desa Tegalsari, Widang, yang jebol pada awal tahun baru ini, membuat cemas 14 desa di daerahnya. Tanggul yang jebol itu, airnya menyasar ke desa-desa dan sulit keluar. Air banjir Bengawan Solo itu, juga menyasar ke sejumlah desa di Kecamatan Laren, Lamongan. Sujatmiko
INDEKS BERITA LAINNYA :
|