Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Jember Kekurangan Benih Kedelai Berkualitas
Jum'at, 14 Maret 2008 | 19:28 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kabupaten Jember, Jawa Timur kekurangan benih kedelai berkualitas.
Padahal ketersediaan benih kedelai yang bagus bisa mendongkrak upaya mewujudkan swasembada kedelai, sekaligus memacu semangat petani untuk bertanam kedelai. "Ini merupakan hambatan tersendiri. Para petani Jember
masih enggan menanam kedelai, karena sulitnya memperoleh benih kedelai yang berkualitas,"kata Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Disperta) Kabupaten Jember, Hari Widjayadi, kepada TEMPO, jum'at (14/03) siang.

Menurut Hari, benih kedelai berkualitas sulit didapatkan petani Jember karena minimnya pembenih kedelai lokal. Selain itu, juga disebabkan terus merosotnya jumlah produksi kedelai. Jumlah produksi kedelai dari tahun-ke
tahun di kabupaten Jember-Jawa Timur ternyata semakin merosot. Menurut data Disperta Kabupaten Jember menyebutkan bahwa produksi kedelai di Tahun 2007,
dipastikan menurun tajam hingga 11,7 ribu ton.

"Faktor lainnya, tidak adanya ketetapan harga dasar kedelai dari pemerintah pusat menyebabkan sebagian petani was-was. Mereka masih khawatir, harga kedelai kembali anjlok seperti tahun lalu. Belum lagi maraknya isyu kedelai impor,"katanya. Hari menambahkan, pada tahun 2006 lalu, lahan produksi kedelai masih mencapai sekitar 19 ribu hektar.

Sedangkan selama tahun 2007, jumlah total lahan produksi kedelai di jember menyusut 9 ribu hektar atau sekitar tersisa sekitar 10 ribu hektar. "Penyusutan lahan kedelai itu disebabkan selama tahun 2006 dan 2007 lalu, para petani di Jember merasa rugi setelah beberapa
kali menanam kedelai,'katanya.

Berdasarkan data Disperta Jember selama tahun 2006 lalu, produksi kedelai turun, karena pada tahun 2006, harga kedelai hancur, hanya sekitar Rp 2.000hingga Rp.
4.000 per kilogram. Akibatnya, para petani merugi sehingga enggan menanam kedelai lagi.

"Mereka lebih memilih menanam komoditas yang lebih menguntungkan, seperti padi dan jagung. Tentu saja, petani tidak bisa disalahkan, karena mereka berpikir secara rasional," tambahnya.

Karenanya, kini Disperta Jember berencana mengusulkan penetapan harga dasar kedelai kepada pemerintah pusat agar produksi kedelai meningkat. Selain itu, akan dilakukan serangkaian upaya berupa bimbingan teknis, bantuan benih bersubsidi kepada petani, dan pembentukan pembenihan kedelai lokal. "Kita harapkan dengan upaya itu kebutuhan benih kedelai berkualitas bisa tercukupi. Salah satu masalahnya, benih kedelai hanya bisa disimpan maksimum 30 hari. Begitu panen, biji kedelai harus sudah ditanam lagi,"katanya. Mahbub Djunaidy


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk119276 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< March,2008>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data