|
Ribuan Umat Katolik Peringati Paskah di Gereja Kuno Puh Sarang
Jum'at, 21 Maret 2008 | 11:26 WIB
TEMPO Interaktif, Kediri:Peringatan Paskah 2008 di Gereja Puh Sarang, Desa Puh Sarang, Semen, Kediri, Jawa Timur dibanjiri ribuan umat Katolik dari seluruh penjuru tanah air. Gereja yang dibangun 11 Juni 1936 di lereng Wilis, setiap tahun menggelar perayaan Paskah dengan gaya budaya Jawa.
"Ini momen sangat penting bagi keluarga kami," kata Stefanis, seorang pengunjung Monumen Salib, Jum'at (21/3). "Untuk itulah kami datang dari Jakarta sejak dua hari lalu."
Gereja terletak sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Kediri. Ratusan mobil dan sepeda motor memadati areal parkir karena lahan parkir tidak muat, pengunjung banyak yang menitipkan kendaraannya di perumahan penduduk sekitar gereja.
Penjual cinderamata juga mengaku mengalami peningkatan omzet penjualan selama perayaan Paskah ini. Dari sejumlah cinderamata yang dijual, yang paling banyak dibeli pengunjung adalah patung bunda Maria. "Sejak pagi tadi saya sudah berhasil menjual sekitar 20 patung bunda Maria. Pada hari-hari biasa paling hanya laku satu atau dua buah saja. Lumayan, setidaknya saya sudah mengantongi Rp 1 juta dari jualan cinderamata ini," kata salah seorang penjual cinderamata di sebelah timur gereja.
Puluhan petugas kemanan dan Satpam gereja juga terlihat sibuk mengamankan perayaan di berbagai sudut. Mereka telah mengantisipasi keamanan sejak beberapa hari lalu.
Perayaan Paskah akan berlangsung hingga akhir pekan ini dengan sejumlah prosesi, diantaranya melakukan prosesi ekaristi atau persembahan di hari 'kamis putih atau kamis suci', malam yang sangat diagungkan oleh seluruh umat Katolik.
Kamis putih merupakan bagian dari 3 hari yang sangat dikeramatkan. Tri Tunggal Maha Suci, yaitu hari Kamis, Jum?at dan Sabtu, para umat Katolik di sekitar Puh Sarang secara terus-menerus melakukan ritual keagamaan dengan kidung-kidung pujian dilantunkan dengan iringan seperangkat gamelan dan diucapkan dengan cengkok tembang-tembang Jawa.
Ritual Jalan Salib menggambarkan ketika Yesus disalib. Di jalan ini terdapat 15 stasi (pemberhentian), di mana tiap-tiap stasi terdapat patung seukuran manusia yang menggambarkan fragmen peristiwa Yesus disalib, diturunkan dari salib, kemudian dimakamkan dan ketika bangkit dari kematian.
Jalan Salib sangat unik karena bentuknya mirip dengan peristiwa kejadian. Di cat dengan warna kuning emas, patung-patung dari semen ini seolah terbuat dari bahan logam. Guratan pada kostum yang dipakai patung-patung tersebut juga sangat menarik karena sangat detil dan khas pakaian kerajaan Romawi kuno.
Arsitektur gereja Puh Sarang merupakan inkulturasi budaya barat dan Hindu sehingga bentuknya lebih mirip candi. Semula ziarah di Puh Sarang hanya terkonsentrasi pada gereja antik Santa Maria.
Kini berkembang dengan adanya bangunan baru seperti, Gua Maria Lourdes, Tiga Pondok Rosario, Jalan Salib di Bukit Golgota, Mausoleum, Columbarium Pieta serta Wisma Betlehem.
DWIDJO U. MAKSUM
INDEKS BERITA LAINNYA :
|