Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Kasus Gizi Buruk di Lamongan Sebanyak 244 Kasus
Jum'at, 21 Maret 2008 | 19:10 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan, akan terus menurunkan tim berikut memantau dan menemukan kasus gizi buruk. Menyusul angka sebanyak 244 kasus gizi buruk dan dua diantaranya masuk kategori marasmus
kwarisorkor (busung lapar) tahun 2007 dan tahun 2008
ini.

Pihak Pemerintah Kabupaten Lamongan kini, sudah mencanangkan penanganan kasus gizi buruk yang sebagian
besar ditemukan di desa-desa. Program yang dikembangkan, di antaranya pemberian makanan pengganti
ASI (MP-ASI) yang dibagi-bagikan gratis ke keluagra pra sejahtera. “Programnya dikembangkan lewat
Puskesmas sebagai ujung tombak penanganan kasus gizi buruk,” tegas Supriyono, Kepala Seksi Gizi Dinas
Kesehatan Lamongan yang dihubungi Tempo, Jumat (21/3) siang.

Selama ini, jumlah kasus gizi buruk di Lamongan memang masih relatif naik turun. Untuk tahun 2007
angkanya terctata 244 kasus, dan tahun 2008 dari januari-Maret belum terdata secara rinci. Tetapi,
kemungkinan jumlahnya akan meningkat, karena program pengentasan kasus gizi buruk, caranya mencari pasien.
Staf rumah sakit, puskesmas atau bidan dan perawat di desa, mencari kasus gizi buruk. Salah satu di
antaranya, dengan monitoring balita di desa-desa lewat program Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).

Di Lamongan sendiri, hingga kini tercatat sedikitnya 1200 lebih kader-kader Posyandu yang langsung
dibimbing oleh bidan/perawat desa di Puskesmas. Selama ini, cara ini lebih efektif bisa menemukan kasus gizi
buruk. Karena, anak-anak balita, setidaknya bisa terpantau satu bulan sekali. Untuk efektifitasnya kita
monitor terus,” tegasnya.

Juru bicara Pemkab Lamongan, Aries Wibawa mengatakan kasus penanganan gizi buruk sudah dianggarkan di Dinas
Kesehatan Lamongan, lewat APBD tahun 2008. Dia menyebutkan, tidak ada pos secara khusus untuk
penanganan kasus gizi buruk. Sebab, program ini sudah masuk ke beberapa program kesehatan. “Tetapi,
prioritas penanganan gizi anak tetap kita lakukan,” tegasnya saat berada di Bojonegoro, kemarin.

Dia menyebutkan, pasca banjir beberapa waktu lalu, bisa jadi akan menambah jumlah kasus gizi buruk.
Penyebabnya, banyaknya nelayan tidak turun melaut, petani rugi akibat banjir, dan pengelola tambak yang
tak bisa kerja akibat banjir yang sejak Januari-Maret ini, tercatat sudah empat kali. sujatmiko


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk119591 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Konversi Minyak Tanah Kalimantan Mundur
Kesenjangan Pajak Masih Besar
DAU Dipotong Bila PDAM Tak Perform
Bakrie & Brothers Dapat Pinjaman US$300 Juta
Pengamanan Putaran Kedua Pilgub Jawa Timur Diperketat

<< March,2008>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data