|
Banjir Susulan Kejutkan Warga Widang Tuban
Jum'at, 21 Maret 2008 | 19:39 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Banjir yang merendam desa-desa di Kecamatan Widang, Tuban kini berkurang dari 13 desa hanya tersisa empat desa. Tetapi, warga di kecamatan yang lokasinya sebagian besar tanah tambak dan pertanian di perbatasan Tuban-Lamongan ini, dikejutkan banjir susulan.
Padahal dari total 16 kecamatan ada 13 desa diantaranya yang sudah 10 hari terendam banjir.
Pasalnya, banjir luapan Bengawan Solo tersebut, tidak bisa keluar akibat sudetan di Laren sepanjang 17,5
kilometer terjadi pendangkalan. “Warga kami memang sudah 10 hari terendam banjir,” tegas Camat Widang
Bambang Dwijono yang dihubungi Tempo, kemarin.
Tetapi, ketika banjir mulai surut dan desa-desa di Widang yang teredam mulai habis airnya, tiba-tiba
banjir datang lagi. Warga, kini mulai kembali panik dan bersiap-siap untuk mengungsi.
Seperti diketahui, akibat hujan deras di Ngawi dan Madiun, Jawa Timur, pada Rabu, malam, air Bengawan
Solo kembali meluap. Daerah hilirnya, seperti, Cepu, Bojonegoro dan Babat, otomatis mendapat dampaknya.
Kini, air tengah menuju ke daerah Widang.
Menurut Bambang Dwijono, dalam hitungan 10 hari ini, banjir membuat sedikitnya 6000 jiwa lebih dari 13 desa
di Widang, berada di pengungsian. Mereka sebagian tinggal di pinggir jalan, di atas tanggul dan mengungsi di keluarganya di luar Widang. Dari 13 desa itu, di antaranya Desa Simorejo, Tegalrejo,
Kedungharjo, Tegalsari, Banjar, Widang, Ngadirejo, Ngadipuro, Mturuk, Kujung, Mlangi dan di Desa Compreng.
Selama 10 hari terendam banjir itu, warga sudah mulai memaak dari air banjir. Menyusul, minimnya stok air
bersih dari pemerintah dan bantuan dari luar. Sulitnya akses dari jalan raya menuju ke desa-desa yang kebanjiran menjadikan alasan utama susahnya penanganan banjir. Apalagi, rata-rata jarak anatara desa dengan
jalan besar, berkisar 5 hingga 10 kilometer dari jalan besar. Dan untuk menuju ke desa yang direndam banjir,
harus menggunakan perahu.
Pihak Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) Bengawan Solo Eks-Karesidenan Bojonegoro menyebutkan,
masalah utamanya, karena sudetan Laren di Kecamatan Lamongan, mengalami pendangkalan. Akibatnya, air
banjir di Widang, sulit keluar.
Penanggulangan sementara, yaitu tanggul jebol diberi kantung plastik, pengerukan, hingga memompa air untuk
bisa keluar.” Ini alternatif, menjelang musim kemarau nanti,” tegas Moelyono, Koordinator Penanggulangan
Bencana BPSDA Bojonegoro.
Pihak Pemerintah Kabupaten Tuban, kini sudah menganggarkan dana Rp 1 miliar APBD 2008, khusus untuk
banjir susulan. Dana itu, sudah dibelanjakan seperti untuk bantuan logistik, alat keehatan dan sejenisnya. sujatmiko
INDEKS BERITA LAINNYA :
|