Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Banjir Jawa Timur:

Anggaran dari Pusat Belum Jelas
Minggu, 23 Maret 2008 | 22:02 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Sedikitnya sudah empat kali selama Januari-Maret ini, ratusan rumah penduduk di pinggir Bengawan Solo, direndam banjir. Tetapi, hingga kini dana dari pusat untuk penanggulangan banjir sungai terpanjang di Pulau
Jawa ini, belum jelas adanya.

Justru kesiapan dana bencana alam sudah dipersiapkan
dari tiga kabupaten yagn daerahnya dilintasi Bengawan
Solo. Yaitu Kabupaten Tuban senilai Rp 1 miliar khusus
untuk banjir susulan, Lamongan senilai Rp 500 juga
untuk banjir susulan dan dari Bojonegoro yang kini
belum diketok. Tetapi, dana tersebut, hingga kini
lebih banyak digunakan untuk pemberdayaan dan
penanganan korban banjir.

Pihak Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Daerah Aliran
(BPSDA) Sungai Bengawan Solo ekskaresidenan Bojonegoro
menyebutkan, hingga kini memang belum ada dana dari
pemerintah pusat untuk penanggulangan banjir. Justru
penanggulangan banjir, pihak pengelola setempat akan
mendapat bantuan lunak dari Pemerintah Jepang. "Untuk
soal dananya kita belum tahu. Baik dari pusat maupun
bantuan lunak dari Jepang," tegas Moelyono, Koordinator Penanggulangan Bencana BPSDA Bojonegoro, pada Tempo, Minggu (23/3).

Menurut Moelyono, proyek dari APBN dan dari bantuan
Pemerintah Jepang itu, di antaranya untuk beberapa program. Seperti, pembuatan sudetan Bengawan Solo,
pelurusan pinggir bengawan, pembuatan bendung gerak
hingga pembangunan tanggul. Di Bojonegoro lanjutnya,
sekarang ini sedang ada proses pembangunan untuk
Bendung Gerak seluas 33 hektare yang berada di
Kecamatan Kalitidu dan Kecamatan Trucuk.

Kemudian program rehab tanggul di Desa Tegalsari Kecamatan Widang, Tuban yang jebol diterjang banjir sepanjang 270 meter. Untuk sementara, pihak pemerintah masih melakukan penanganan sementara. Yaitu dengan membuat tanggul darurat, seperti kantung pelastik berisi pasir ditumpuk di tanggul yang jebol

Selain itu, program memperlancar di sudetan Leran,
Kabupaten Lamongan, sepanjang 17,5 kilometer yang
menghubungkan genangan air di 15 desa di Kecaman
Widang, Tuban. Sudetan tersebut, posisinya kini
menjadi sangat vital karena terjadi pendangkalan.

Akibatnya, air luberan Bengawan Solo yang menerjang
tanggul di Desa Tegalsari, hingga kini tidak bisa
keluar dari sedikitnya 13 desa di kecamatan tersebut.
Bahkan sudah 10 hari lebih air menggenangi rumah warga
yang rata-rata berlokasi di sawah dan tambak tersebut.

Wilayah BPSDA Ekskaresidenan Bojonegoro, tercatat
sekitar 300 kilometer yang membentang mulai dari
Karang Nongko, Ngraho Bojonegoro hingga muara air laut
di Gresik. Dalam catatan, sungai sepanjang itu,
sekitar 30 kilometer kiri-kanannya rawan longsor.

Seperti di Cepu, tebing bengawan sudah mengikis, dan
kini telah menyasar ke rumah penduduk termasuk tiang
jembatan Cepu yang menghubungkan jalur lintas provinsi
Jawa Timur-Jawa Tengah. "Kondisi ini, menjadi
perhatian serius kami," tegas Moelyono pada Tempo.

Sekarang ini, setelah lebih dari empat kali terjdi
banjir susulan, air Bengawan Solo juga masih merendam
ratusan perumahan penduduk di sepanjang sungai.

Seperti di Cepu,Kabupaten Blora dan sebagian di
Bojonegoro. Data di BPSDA, ada ditemukan keanehan soal
permukaan air. Misalnya data di papan duga di Karang
Nongko, Ngraho, sudah normal sekitar 27.12 phielschal
pada pukul 21.00 WIB, tetapi pada pagi harinya, papan
duga di Kota Bojonegoro, justru masih menunjukkan
siaga III yaitu di atas 15.00 phielschal. "Ini kejadian yang sulit terjadi dan aneh. Menurut saya, ini baru terjadi pertama kali," tegasnya.

Dia menyebutkan, keanehan ini terjadi, karena adanya pendangkalan di sungai, pendangkalan di anak sungai, sera putaran arus air di hilir yang besar. Harusnya, jika papan duga di Karang Nongko dengan papan duga di Kota Bojonegoro, seimbang.

Sementara itu, untuk dana bencana alam, pihak Pemerintah Kabupaten Tuban, sudah menganggarkan dana banjir susulan sebesar Rp 1 miliar untuk bulan akhir Februari lalu. Jumlah tersebut, belum termasuk dana yang dikeluarkan saat banjir pada awal Januari lalu, jumlahnya sekitar Rp 3 miliar. "Khusus banjir susulan ini, dana kita sudah siap," tegas Sukristiono, juru bicara Pemkab Tuban pada Tempo.

Bantuan dana serupa juga sudah disiapkan oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan. Tetapi, pihak peemrintah setempat baru menyediakan dana sekitar Rp 500 juta, khusus untuk bantuan pokok dan kebutuhan harian. Sedangkan untuk bantuan infrastrukrut wilayah Bengawan Solo, Pemkab Lamongan, masih merincikan dengan Dinas Kimpraswil dan Pekerjaan Umum.

"Koordinasinya lintas sektoral, termasuk dengan BPSDA, ujar Aris Wibawa, juru bicara Pemkab Lamongan. sujatmiko


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk119659 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< March,2008>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data