Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Pengrajin Tenun Butuh Modal
Selasa, 25 Maret 2008 | 18:09 WIB

TEMPO Interaktif, Yogyakarta:
Para pengrajin tenun di Desa Argosari, Kecamatan Sedayu, Bantul, mengeluh, terbatasnya modal usaha. Padahal menurut mereka, hingga saat ini pesanan barang kerajinan tenun masih cukup banyak. “Pesanan sebenarnya masih cukup banyak, kami sering kewalahan. Karena minimnya modal kami terpaksa membatasi produksi,” kata Darwati, pemilik Pusat Kerajinan Tenun Akarya Mandiri, Selasa (25/3).

Menurut Darwati, pesanan itu masih banyak. Dalam satu minggu, dia masih bisa memproduksi 150 rol (1.500 meter) tenun, sebagai bahan baku kerajinan. “Sebenarnya berapapun yang kami produksi, pasti akan dibeli. Tapi kemampuan maksimal kami hanya 150 rol per minggu,” katanya.

Darwati berharap, pemerintah Kabupaten Bantul bersedia memfasilitasi para perajin agar bisa mendapat bantuan modal usaha. “Kami sebenarnya sudah berusaha minta bantuan alat potong, dan kemungkinan pinjaman modal usaha. Namun sampai saat ini belum ada tanggapan,” kata Darwati.

Menurut Darwati, sesungguhnya keuntungan kerajinan tenun itu tipis. Paling hanya seratus sampai dua ratus rupiah per lembar. Padahal sebelum Krisis Moneter, dia bisa meraup untung sekitar seribu hingga dua ribu rupiah per lembar. Meski sulit, Darwati tetap bertahan. Alasannya, karena tak ingin karyawannya nganggur. “Saya tidak tega kalau melihat mereka nganggur,” kata Darwati yang kini masih memiliki 100 orang pekerja ini.

Ibu dua anak ini memulai usaha sejak 1996. Semula, dia memproduksi setagen. Tapi belakangan, pesanan kain setagen menurun. Untuk memanfaatkan ratusan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang dimiliki, sejak 1980, Darwati beralih memproduksi tenun untuk bahan baku kerajinan, dengan memanfaatkan bahan alami seperti lidi, mendong, enceng gondok, akar wangi, dan sebagainya.

Oleh perempuan ini, bahan-bahan itu dirangkai menjadi tenunan, dengan peralatan ATBM. Nah, tenun itulah yang dipesan para pengrajin untuk membuat kerajinan seperti: box, alas makan, hiasan dinding, dan sebagainya. Berkat usaha ini, Darwati berhasil membiayai dua anaknya menjadi sarjana.
heru cn




INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk119786 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

ACeS Menang Gugatan Lelang USO
Pejabat Cianjur Beda Pendapat soal BLT
Polisi Gerebek Pesta Ganja
Baru Tiga Kecamatan Dapat Kartu BLT
Hamilton Tercepat di Sesi Latihan Monaco

<< March,2008>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data