|
Yogya Tempat Transit Narkoba
Kamis, 27 Maret 2008 | 14:07 WIB
TEMPO Interaktif, Yogyakarta/b>:
Pagi ini, Kamis (27/3), Badan Narkotika Nasional (BNN) melakukan pembinaan dan penyuluhan narkotika di Gedung Wanita, Jalan Solo, Yogyakarta. Hadir dalam acara itu seluruh jajaran polisi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang membidangi narkotika. Pembinaan dan penyuluhan itu terkait dengan upaya BNN memburu para penjahat narkotika, yang diduga, Yogya sebagai tempat transitnya.
Seorang sumber mengatakan, sesungguhnya Yogya bukan target, tapi menjadi tempat “ampiran”. Kini, polisi sedang mengejar penyelundupan 600 kilogram heroin, yang dibawa dari Cina, masuk lewat teluk Jakarta dan diduga sempat mampir Yogya. Karena itu, polisi masih terus melakukan operasi besar-besaran terhadap kejahatan ini.
Dua hari lalu, Selasa (26/3) sekitar pukul 14.00 wib, Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) dibantu Kepolisian Daerah Yogyakarta berhasil menangkap gembong heroin di bandara Adisucipto Yogyakarta.
Dia adalah Jose Manuel Javier, 42 tahun, warga negara Australia, ditangkap saat turun dari pesawat Garuda penerbangan dari Bali menuju Yogyakarta. Dia datang bersama istrinya, Sheila, asal Jepara, Jawa Tengah. Menurut Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Istimewa Yogyakarta, Brigadir Jenderal Polisi Untung Suharsono Radjab, Jose merupakan target operasi (TO) kepolisian Australia, dalam kasus peredaran heroin di Australia.
Dalam penjelasannya Selasa malam, Kapolda mengatakan, mendapat faximile dari Dit Narkoba Mabes Polri, untuk mem-back up Mabes Polri dalam penangkapan tersebut karena target sedang dalam perjalanan dari Bali menuju Yogyakarta, dengan pesawat Garuda. “Polda DIY membantu Mabes Polri untuk menangkap target. Sekarang target sudah diserahkan ke Mabes Polri,” katanya.
Jose, selama ini dikenal sebagai pengusaha ekspor mebel di Jepara. Selain itu, Jose juga memiliki usaha, sebuah villa di Jepara, Jawa Tengah. Polisi menduga, Jose menyelundupkan heroin dengan cara memasukkan produk itu ke dalam kemasan mebel yang diekspor ke Australia. Karena itu, Polisi juga menduga, usaha mebel miliknya itu hanya merupakan kamuflase bisnis heroin yang dilakukan Jose.
Dugaan sementara dari polisi, Jose menyelundupkan heroin seberat 27 kilogram dari Indonesia ke Australia. Tetapi, informasi itu juga masih simpang siur, terutama menyangkut keberadaan barang bukti itu, apakah semua ada di Australia atau sebagian berada di Indonesia. Hal itu mengigat keterangan yang disampaikan dari Kapolda DIY Untung, berbeda dengan Direktur Narkoba Komisaris Besar (Kombes) Polisi Mugiarto. Kapolda menyatakan, barang bukti ada yang di Jepara, sedangkan Dir Narkoba mengatakan semua barang bukti ada di Australia. “Barang bukti ada di Australia, kita hanya membantu penangkapan target operasi karena dia sedang menuju Yogyakarta,” ujar Kombes Pol Mugiarto.
Hingga kini, Polda DIY tetap mengadakan pemantauan terhadap kasus penangkapan itu karena dikhawatirkan ada anggota kelompok Jose yang saat ini masih berada di Yogyakarta.
Tampaknya niat polisi memburu penjahat narkoba cukup serius. Penyisiran tempat-tempat yang dianggap rawan sudah dilakukan sejak setengah bulan lalu. Dan kini, diperpanjang hingga sebulan mendatang. Mereka juga melakukan rasia pada waktu-waktu tertentu di jalan-jalan. Bahkan dalam setiap operasi tilang, polisi juga melakukan penggeledahan.
Muh Syaifullah dan LN Idayanie
INDEKS BERITA LAINNYA :
|