Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Jember Panen Raya Padi:

Petani Minta Bulog Segera Terbitkan HPP 2008
Jum'at, 28 Maret 2008 | 12:11 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Sejak akhir bulan Januari lalu, hingga kini para petani di Jember melakukan panen raya padi. Para petani meminta pemerintah dan Bulog segera menetapkan HPP 2008 dengan harga pembelian yang lebih tinggi.

Mereka mengeluhkan pembelian gabah oleh tengkulak dengan harga murah, bahkan dibawah HPP 2007. Mereka juga meminta kepada pemerintah dan Bulog agar penetapan HPP sebaiknya tidak dilakukan bersamaan dengan datangnya panen raya, karena penetapan HPP yang bersamaan dengan datangnya panen raya, cenderung dimanfaatkan para tengkulak untuk mendapatkan keuntungan tinggi dan merudikan petani.

"Kalau bisa Bulog dan pemerintah menetapkan HPP setahun sebelumnya, "kata Nur Yasin, ketua kelompok tani Sampurna Kecamatan Jenggawah, usai acara panen raya padi Hibrida di Kecamatan Jenggawah, Jum'at (28/03).

Selama ini, lanjutnya, penetapan HPP oleh pemerintah dan Bulog selalu terlambat, bahkan hingga musim panen raya padi berakhir. Disamping itu, tidak tersosialisasi dengan baik kepada petani ditingkat desa.

Kondisi seperti itu, dan ketidaktahuan petani soal harga pembelian hasil panen yang ditetapkan pemerintah dan Bulog, kerap dimanfaatkan oleh para tengkulak untuk mengeruk untung. Saat ini, para petani padi di Jember mengakui, para tengkulak membeli hasil panen mereka dengan harga Rp1600 hingga Rp 1700 per kilogram gabah.

"Mereka membeli hasil panen kami seenaknya. Alasannya macam-macam, seperti harga pasti dari Bulog tidak ada, atau harga sudah turun karena banyak bencana alam," tambah P. Jamal, salah seorang petani lainnya.

Sementara, Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub. Divisi Regional IX Jember menyatakan masih menunggu penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dari pemerintah. "Tapi kami belum bisa membeli gabah petani sesuai dengan HPP yang baru, tetapi dengan HPP berdasarkan Inpres No. 3 Tahun 2007," kata Wakil Kepala Bulog Sub Divre IX Jember, Subali Agung Gunawan usai acara panen raya padi Hibrida di Kecamatan Jenggawah.

Subali mengungkapkan, tahun 2008 ini Bulog Jember menargetkan pengadaan beras sebanyak 50 ribu ton. Selama bulan januari hingga minggu ketiga maret 2008, Bulog Jember telah melakukan pengadaan sebanyak 490 ton gabah, dan 12.370 ton beras.

Dia membantah tudingan bahwa Bulog tidak mau membantu petani dengan cara membeli hasil panen dengan harga pembelian yang lebih tinggi. "Bulog butuh stok banyak. Tidak ada alasan apapun untuk tidak membeli semua gabah petani. Kualitas apapun," ujarnya.

Untuk hasil panen yang tidak sesuai kriteria HPP 2007 yakni kadar air tidak melebihi 14% dan kadar hampa tidak melebihi 3%, Bulog Jember mengaku tetap akan membeli gabah berdasarkan patokan harga Tabel Rafaksi yang dikeluarkan Departemen Pertanian RI.

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Jember Hari Widjayadi mengatakan bahwa, tengkulak merupakan bagian dari mekanisme pasar. Menurunnya harga gabah hasil panen petani, lanjutnya, disebabkan banyaknya atau panjangnya mata rantai pasar. "Salah satunya tengkulak. para tengkulak itu perlu dibina agar tidak terlalu mengambil keuntungan yang tidak wajar dan merugikan petani," katanya.

Apalagi, selama ini kebanyakan petani di Jember telah mengambil atau meminjam modal kepada tengkulak sejak mulai menanam padi hingga panen. Akibatnya, ketiak musim panen tiba, mereka tetap 'terikat' kepada tengkulak itu. Meski demkian, Hari mengakui selama ini Disperta Jember tidak memiliki program khusus pembinaan tengkulak itu. "Kami lewat para petugas lapangan melakukan pembinaan secara informal. Apalagi jumlah tengkulak kan banyak, dan tidak semuanya terdata," ujarnya.

Sedangkan Bulog Jember, kata Subali Agung, menyarankan petani agar dalam bertani padi dilakukan pengaturan sejak menanam hingga memanen. Menurutnya, dengan mengatur penanaman dimungkinkan musim panen padi tidak akan bersamaan dan bisa berlangsung dalam rentang waktu cukup lama. "Jika musim panen terus berkelanjutan, dan jangka waktunya lebih lama, bisa menjamin harga stabil dan peran tengkulak semakin kecil,"katanya. Mahbub Djunaidy


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk119996 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Gubernur Bolehkan KPU Jatim Bekerja Sampai KPU Baru Dilantik
Laba Bersih Corporindo Tumbuh 103 Persen
Pefindo Valuasi Emiten Kecil dan Menengah
Pendidikan Anti Korupsi Untuk Siswa
Sutjipto Klaim Menangkan Pilgub Jawa Timur

<< March,2008>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data