|
Penjual Buku Bekas Ancam Duduki Balai Kota
Jum'at, 28 Maret 2008 | 19:29 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Ratusan penjual buku bekas di Jalan Semarang, Surabaya mengancam akan menduduki kantor wali kota pada Senin pekan depan jika rencana penggusuran terhadap mereka tidak dibatalkan. Koodinator pedagang buku bekas Budi Santoso menilai, aksi massa itu terpaksa dilakukan karena Wali Kota Bambang Dwi Hartono telah bertindak sewenang-wenang. "Sebenarnya kami tidak keberatan ditertibkan, tapi harus diberi solusi relokasi tempat. Kalau hanya digusur tanpa solusi keluarga kami terus makan apa," kata Budi kepada Tempo, Jumat (28/3).
Budi memastikan bahwa aksi tersebut akan didukung oleh para pedagang Pasar Tembok yang pada pekan depan juga hendak digusur. Menurut Budi, sebenarnya pihak pemerintah kota telah menawarkan agar para penjual buku bekas berpindah ke Pasar Tambahrejo di Jalan Kapas Krampung yang telah dibangun menjadi pasar modern. Namun dia dan kawan-kawannya merasa keberatan karena selain letaknya tidak strategis, segmen pasar itu lebih pada menengah ke atas. "Kalau kami pindah ke sana, siapa yang mau beli buku bekas," kata Budi yang sejak 1999 berjualan buku.
Budi menuntut kepada pemerintah kota agar mencarikan tempat relokasi yang tidak jauh dari lokasi semula. Pasalnya, selama ini tempat tersebut mudah dijangkau baik dari dalam maupun luar kota karena dekat dengan Stasiun Pasar Turi. Pembeli dari daerah Bojonegoro dan Lamongan, kata Budi, hanya menghabiskan uang Rp 3 ribu dengan kereta api ekonomi. Karena letaknya yang strategis itulan, kata Budi, rata-rata dalam sehari ia dan kawan-kawannya dapat meraup omset antara Rp 200 - 250 ribu per kios. "Ini sandang pangan kami," kata Budi.
Untuk memprotes rencana penggusuran tersebut Budi merentangkan kain putih sepanjang 10 meter. Setiap pembeli yang datang diminta membubuhkan tanda tangan sebagai bentuk dukungan. Selain itu mereka juga memasang beberapa spanduk yang berisi kecaman terhadap pemerintah kota. Salah satu spanduk itu berbunyi: gusur buku tanpa solusi, memusnahkan sejarah, membunuh generasi, pembodohan rakyat miskin. "Kami akan mencoba pertahankan tempat ini," kata Budi yang mengenakan kaos hitam bergambar aktivis Wiji Thukul.
Reni, mahasiswi semester 8 Teknik Lingkungan ITS Surabaya yang menjadi pelanggan setia kios buku bekas itu sejak tujuh tahun lalu merasa sayang jika para pedagang itu digusur. Pasalnya, ia membeli buku di tempat tersebut dengan harga selisih separuh dari harga toko. "Buat mahasiswi yang pas-pasan kayak saya, kios-kios ini sangat membantu," katanya. Kukuh SW
INDEKS BERITA LAINNYA :
|