Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Minyak Tanah Naik, Warga Mulai Pakai Kayu Bakar
Jum'at, 28 Maret 2008 | 19:38 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kelangkaan minyak tanah di Kabupaten Kediri, Jawa Timur semakin akut. Sejumlah agen dan pangkalan minyak tanah mengaku sudah tidak memiliki stok. Akibatnya harga minyak tanah kini melambung hingga mencapai Rp 3.500 per liter. Padahal HET (harga eceran tertinggi) hanya Rp 2.344 per liter. Sebagian warga terpaksa mengais sisa kayu untuk kayu bakar.

"Sudah seminggu ini kami tidak bisa menjual minyak tanah karena pangkalan tempat kami mengulak sudah tidak melayani lagi karena stok tidak ada," kata Heri, salah seorang penjual minyak tanah di Mojoroto, Kota Kediri, Jum'at (28/3).

Menurut dia, sebelum terjadi kelangkaan minyak tanah, setiap hari dia tidak mengalami kesulitan mendapatkan minyak tanah. Sebagai penjual hal itu tentu saja membuat kerepotan karena tidak bisa memenuhi permintaan pelanggan. Dia sendiri terpaksa mengantri untuk membeli 5 liter minyak tanah untuk kebutuhan sendiri dengan harga Rp 3.500 per liter.

"Padahal biasanya saya menjual dengan harga hanya Rp 2.500 per liter kepada pelanggan," kata Heri.

Putut, salah seorang pengelola pengkalan minyak tanah di Kelurahan Sukorame, mengaku tidak mendapatkan kiriman dari Pertamina sejak sepekan lalu. Padahal setiap hari banyak pembeli siap mengantri di pangkalannya. Penyebab telatnya pengiriman dia menyatakan tidak tahu.

"Semua pangkalan minyak tanah sepertinya mengalami hal yang sama. Penyebab keterlambatan pengiriman ini saya tidak tahu," kata Putut.

Dampak hilangnya minyak tanah dari pasaran sangat dirasakan masyarakat yang setiap hari menggunakan minyak tanah untuk kebutuhan sehari-hari. Untuk mengatasi hal itu, sebagian masyarakat terpaksa mencari kayu bakar untuk memasak. Selain karena minyak tanah sulit didapat, jika ada harganya sudah sangat tinggi dan memberatkan.

"Kalau uang Rp 3.500 buat beli minyah tanah, sangat berat sekali. Kami terpaksa mengais kayu-kayu sisa di sejumlah proyek bangunan. Dengan kayu itu kami bisa memasak," kata Umayah, salah seorang warga Kecamatan Pesantren yang sedang mencari kayu bakar di sekitar proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kota Kediri.

Hal yang sama dilakukan Katirin, salah seorang warga Mojoroto yang mencari kayu bakar di lokasi pembangunan perumahan Mojoroto Indah. Bersama istrinya dia berjalan kaki keliling memungut kayu yang sudah tidak terpakai proyek perumahan.

"Tiap pagi dan sore saya mengumpulkan untuk cari kayu bakar bersama istri saya. Kalau tidak begini malah tidak bisa beli beras. Minyak tanah sudah sangat mahal," kata Katirin. DWIDJO U. MAKSUM


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk120030 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Satu Orang Terluka di Kecelakaan Tol Tangerang
Kejaksaan Kembalikan Berkas Kasus Sinar Pacific
Persiba Siapkan Pengganti Peter Butler
Empat Korban Minuman Keras Masih dirawat, Tiga lainnya Tewas
Menteri Keuangan Kembali Bekukan Izin Kantor Akuntan Publik

<< March,2008>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data