|
Badan Narkotika Nasional:
Menghadapi Narkoba Ibarat Melawan Monster
Jum'at, 28 Maret 2008 | 19:58 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketua Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (BNN) Made Mangku Pastika menegaskan, melawan sindikat peredaran gelap narkoba itu ibarat melawan monster raksasa. Karena itu diperlukan tekad kuat dan kebersamaan dalam upaya memeranginya.
Penegasan tersebut disampaikan Mangku Pastika ketika melantik pengurus Barisan Anti Narkoba Indonesia (BANI) Cabang Buleleng di Singaraja, Jumat (28/3).
BANI dideklarasikan tahun lalu di Denpasar, Bali, untuk menambah kekuatan masyarakat dalam memerangi peredaran gelap narkoba. “Sebagaimana namananya, anggota BANI harus berani. Tidak boleh takut,” tegasnya. Untuk dimaklumi, dalam bahasa daerah Bali, bani artinya berani.
Di Indonesia, katanya, tiap hari ada 40 orang mati sia-sia karena mengkonsumsi narkoba. Dan kebanyakan dari mereka adalah usia muda atau produktif. Jika keadaan itu dibiarkan, maka sumber daya manusia Indonesia ke depan akan menjadi sangat lemah. Menjadikan bangsa kita sulit bersaing menghadapi tantangan di era global sekarang ini maupun nanti.
Sindikat peredaran gelap, jelasnya, diakui memiliki uang yang banyak. Mereka bisa menyuap polisi, jaksa, hakim, hingga pengacara. Juga dalam menjalankan bisnisnya, mereka menggunakan teknologi maju sehingga sindikasi mereka sangat kuat dan menggurita. Karena itulah Mangku Pastika menyebut sindikasi narkoba tak ubahnya bagaikan monster. “Karena itu, tugas BANI dan LSM-LSM lainnya adalah sangat berat. Risikonya tinggi,” kata dia.
Bisnis narkoba per hari di Indonesia ditaksir mencapai Rp 50-100 milyar. Karena begitu tinggi omzet bisnis narkoba, maka para bandar akan berusaha selalu memiliki persediaan agar suplai narkoba di pasar tidak terputus.
Kebutuhan barang hamam tersebut di Indonesia terbilang tinggi. Khusus untuk heroin saja, konsumen di Indonesia mencapai sekitar 40.000 orang. Jika setiap pecandu heroin mengkonsumsi 1 gram per harinya, dengan asumsi 1 gram heroin seharga Rp 1 juta, maka jumlah total belanjaan pecandu heroin mencapai Rp 40 milyar per hari. “Belum lagi dari jenis lainnya,” ungkap Pastika
Selain omsetnya tinggi, keuntungannya juga besar. Disebutkan, harga ganja di Aceh hanya Rp 200 ribu per satu kilogram. Setelah di Bali menjadi Rp 4 juta. Itulah sebabnya, mereka tidak sungkan-sungkan menyuap petugas jika dalam proses pengiriman ditemukan masalah. “Ganja yang dihasilkan di Aceh dan Afganistan sana, kok bisa beredar sampai di Bali. Itu berarti mereka memiliki uang, teknik, dan keberanian. Mengingat panjangnya perjalanan yang mereka lalui, mestinya tidak bisa sampai ke Bali kalau tidak memiliki tiga hal seperti saya sebutkan tadi,” tegasnya. Made Mustika
INDEKS BERITA LAINNYA :
|