|
Banjir Susulan Landa Ngawi dan Madiun
Minggu, 30 Maret 2008 | 19:28 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Hujan deras yang melanda wilayah eks Karisedenan Madiun (Kota/Kabupaten Madiun, Magetan, Ponorogo, Pacitan dan Ngawi) mengakibatkan anak sungai beserta Sungai Bengawan Solo di wilayah itu kembali meluap. Akibatnya banjir susulan kembali terjadi di Ngawi dan Madiun pada Minggu (30/3).
Di Ngawi, banjir setinggi 50 hingga 100 centimeter melanda ratusan rumah di enam desa di Kecamatan Kwadungan. Yaitu di Desa Sumengko, Simo, Tirak, Kedung, Dinden dan Purwosari. Selain itu, ratusan hektar tanaman padi berusia muda terendam air banjir.
Banjir juga mengakibatkan jalur alternatif Ngawi-Madiun melalui Kwadungan terputus. Jalan-jalan di jalur ini terendam air banjir hingga ketinggian 50 centimeter. Untuk menuju Ngawi, para pengguna jalan harus memutar melewati Maospati Magetan.
"Kami memilih bertahan dulu daripada mengungsi," kata Sulastri, seorang warga Simo, Kwadungan, Minggu (30/3). Walau tidak mengungsi ia tetap memindahkan sejumlah perabotan berharga ke tempat yang lebih tinggi.
Kepala Desa Simo, Djuri mengatakan banjir sudah menjadi langganan ketika musim penghujan. Untuk mengatasi banjir, ia berharap agar pemerintah membuat tanggul. "Solusinya memang saatnya dibuatkan tanggul," tegas dia. Menurutnya, banjir yang melanda Ngawi telah mengakibatkan kerugian yang cukup besar.
Desakan pembuatan tanggul juga muncul dari sejumlah warga di tiga desa yaitu Garon, Gading dan Sogo di Kecamatan Balerejo. Pasalnya ratusan rumah di tiga desa ini juga terendam air banjir ketinggian 70 hingga 100 centimeter akibat luapan Sungai Madiun (anak Sungai Bengawan Solo. "Dalam sebulan ini terjadi empat kali banjir. Seharusnya pemerintah segera membuatkan tanggulnya," pinta Sutrisno, warga Desa Garon, Balerejo. DINI MAWUNTYAS
INDEKS BERITA LAINNYA :
|