|
Peringatan Dini Banjir Dipasang di 10 Titik Bengawan Solo
Senin, 31 Maret 2008 | 13:13 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pencegahan banjir luapan Bengawan Solo, terus dibenahi. Kali ini akan dipasang peringatan dini di 10 titik di sungai Bengawan Solo, yang nantinya bisa mendeteksi, kapan bahaya banjir menyasar ke perkampungan penduduk.
10 titik peringatan dini banjir ini, dibiaya oleh pihak Perum Jasa Tirta I Malang bekerjasama dengan Balai Pengelolaan Sumber Daya Alam Daerah Aliran Sungai (BPSDA-DAS) Bengawan Solo, dan Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pengungsi Bojonegoro. Peralatan ini, menjadi pelengkap peringatan bagi warga
yang tinggal di aliran sungai terpanjang di Pulau Jawa
ini.
Alat peringatan dini ini, berupa pipa sebesar paha orang dewasa yang kiri-kanannya berlubang-lubang. Kemudian di atasnya dipasang lampu sirine, berwarna hijau (tanda waspada), kuning (peringatan) dan merah (awas banjir). Pipa tersebut dimasukkan ke dalam sungai, dan sewaktu-waktu jika air pasang, akan meraung-raung sesuai dengan tingkat ketinggian airnya.
Menurut Moelyono, Koordinator Penanggulangan Bencana BPDA-DAS Bengawan Solo, mengatakan, alat peringatan
dini, baru datang hari ini. Untuk tahap awal, akan dipasang di tiga titik, semuanya di Kabupaten Bojonegoro. "Nantinya, akan dipasang total 10 titik di Bengawan Solo, tegasnya pada Tempo, Senin (31/3) siang.
Sedangkan 10 titik tersebut, yaitu di tiga di Kabupaten Bojonegoro, seperti di Karang Nongko, Kecamatan Ngraho, Ledok Wetan, Kecamatan Kota Bojonegoro, dan Jembatan Kali Ketek Kecamatan Trucuk. Kemudian di Kabupaten Lamongan terdapat di empat titik, yaitu Kecamatan Babat, Plangwot Kecamatan Laren, di Karang Geneng Kecamatan Karang Geneng dan Kuro Kecamatan Glagah. Di Kabupaten Tuban dipasang
satu titik, tepatnya di Pilang. Dan di Kabupaten Gresik dipasang dua titik, yaitu di di Kali Mireng dan Kali Lanang.
Di 10 titik tersebut, selama ini digunakan untuk untuk pemantau pengukuran banjir. Misalnya, di Karang Nongko, Kecamatan Ngraho, menjadi patokan awal, untuk mengecek ketinggian air banjir. "Prosedur pengawasan ketinggian air di BPSDA Bojonegoro, sudah berjalan bertahun-tahun, dan cukup efektif," tegas Moelyono.
Selama ini, peringatan dini untuk Bengawan Solo, masih sedikit diketahui masyarakat. Seperti lewat BPSDA-DAS Bengawan Solo dan Satlak Bengawan Solo. Tetapi, dengan dipasangnya alat ini, otomatis, akan mempermudah masyarakat umum mengetahui dengan mudah. Masyarakat bisa cepat mengetahui jika mendengar sirine meraung-raung dari sungai Bengawan Solo.
Menurut Karmaji, warga di Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Kota, mengaku senang dengan dipasangnya peringatan dini. Selama ini, banjir luapan Bengawan Solo, paling cepat diketahui dari radio. "Tetapi, kali ini bisa kita ketahui langsung, begitu ada sirine meraung-raung," tegas pria yang sehari-hari tercatat sebagai PNS di Bojonegoro ini.
Di Kota Bojonegoro, daerah yang rawan dan menjadi langganan banjir terdapat di sejumlah titik. Di antaranya di Kelurahan Ledok Kulon, Ledok Wetang, Klangon, dan sebagian di Jetak. Daerah ini, menjadi rawan banjir karena lokasinya berada di dalam tanggul Bengawan Solo.
Petugas Satlak-Penanggulangan Bencana dan Pengungsi, Bojonegoro, juga akan menjadikan rujukan peringatan dini banjir. Selama ini, Satlak juga masih menjadikan alternatif alat ukur manual di Karang Nongko, Ngraho.
Padahal, jarak antara Karang Nongko dengan Kota Bojonegoro sekitar 45 kilometer. sujatmiko
INDEKS BERITA LAINNYA :
|