Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

PKL Dan Juru Pakir Gelar Demo Penetapan Sultan
Senin, 31 Maret 2008 | 15:08 WIB

TEMPO Interaktif, Yogyakarta:
Ribuan Pedagang Kaki Lima (PKL) sepanjang Jalan Malioboro berhenti beraktivitas> Mereka menggelar aksi mendukung Sri Sultan Hamengku Buwono X ditetapkan menjadi gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Senin (31/3).

Aksi dimulai pukul 08:00, dari Jalan Abu Bakar Ali menuju kantor DPRD Propinsi DIY. “Kami rela tidak berjualan sehari semalam demi Sultan,” kata Suwardi, pengurus Asosiasi Pedagang Kaki Lima Jalan Malioboro.

Menurutnya, aksi didukung sembilan paguyuban pedagang di jalan Malioboro, serta juru parkir sepanjang jalan tersebut. Para pedagang dengan tertib melakukan aksi tanpa banyak bicara. Mereka hanya memberikan pernyataan sikap kepada anggota DPRD Propinsi DIY.

Para peserta aksi menuntut agar keistimewaan Yogyakarta segera ditetapkan, serta mendukung Sri Sultan Hamengku Buwono X ditetapkan sebagai gubernur DIY dan Sri Pakualam IX sebagai wakilnya.

Menurut Suwardi, kesan PKL sulit diatur itu tidak benar,
ternyata PKL dan juru parkir bisa diajak melakukan
aksi bahkan rela tidak berjualan demi kepentingan
bersama.

Aksi tersebut dilanjutkan dengan aksi diam. Mereka tidak melakukan aktivitas transaksi jual beli. Koridor sepanjang Malioboro tampak lengang, sepi, dan tak dijubeli pengunjung.

Agus Sugiarto (48), pedagang batik di jalan Malioboro
menyatakan, dirinya akan patuh terhadap asosiasi yang
mengatur anggotanya, bahkan sehari libur, tak berjualanpun rela. "Saya rela kehilangan omzet satu juta rupiah demi kepentingan bersama,” kata dia.

Sepinya pedagang di sepanjang Jalan Malioboro mengulang kembali peristiwa sepuluh tahun lalu. Kala itu, Jalan Malioboro sepi, pedagang kaki lima ikut gerakan rakyat, aksi mendukung lengsernya Soeharto, 20 Mei 1998.

Menanggapi aksi itu, Gandung Pardiman, Wakil Ketua DPRD Propinsi DIY akan meneruskan aspirasi tersebut, dengan
mengusulkan “public hearing” ke rapat komisi DPRD DIY. “Kita akan menampung aspirasi mereka, penetapan RUUK Yogyakarta biar segera terealisir,” kata Gandung.

Menurut Gandung, pihaknya juga tidak menutup aspirasi
masyarakat yang mendukung pemilihan Gubernur. “Biar
tidak ada diktator dalam penetapan dan jangan ada
tirani dalam pemilihan,” katanya.
muh syaifullah


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [2]
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk120121 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< March,2008>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data