|
111 Tahun Oto Iskandar Dinata Diperingati
Senin, 31 Maret 2008 | 23:58 WIB
TEMPO Interaktif, Bandung:— Paguyuban warga Pasundan bersama anak-anak sekolah Senin (31/3) memperingati lahirnya pahlawan nasional Oto Iskandar Dinata. Mereka mengelar upacara di Monumen Pasir Pahlawan Oto Iskandar Dinata, pingir Jalan Raya Lembang, Kabupaten Bandung. “Ini peringatan lahirnya Pahlawan Nasional Oto Iskandar ke 111 “ kata Ginandjar Kartasasmita, Ketua Dewan Pangaping Paguyuban Pasundan Ginandjar Kartasasmita, saat memimpin upacara.
Anggota dan pengurus kelompok Paguyuban Pasundan beserta para siswa sekolah yang dikelola kelompok itu menjalankan upacara peringatan hari lahir pahlawan nasional itu di Monumen Pasir Pahlawan Oto Iskandar Dinata di pinggir Jalan Raya Lembang, Kabupaten Bandung
Oto Iskandar atau populer dengan julukan si Jalak Harupat, adalah pahlawan nasional dari tanah pasundan. Pejuang kemerdekaan ini lahir di Bandung, 31 Maret 1897. Ia memimpin Paguyuban Pasundan sejak 1929 sampai 1942. Organisasi ini bergerak di bidang pendidikan dengan mendirikan sekolah, budaya, ekonomi dan hukum. Tahun 1931 sampai 1941 ia menjadi anggota Volksraad, yang menjadi embrio dari dewan perwakilan rakyat di kemudian hari.
Sebagai ketua umum paguyuban, Oto menyetir kelompok itu masuk dalam politik praktis hingga sempat menjadi partai politik di jaman penjajahan Belanda. Ia bahkan disebut-sebut sebagai pencetus pekik “Merdeka” yang kemudian populer sebagai jargon perjuangan Indonesia .
Ia pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia dan menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Bersama yang lain, Oto ikut merancang UUD 1945. Bahkan pada sidang PPKI, 19 Agustus 1945, Oto mengusulkan agar Soekarno dipilih menjadi Presiden. Dan Hatta sebagai Wakilnya. Usulan Oto disetujui secara aklamasi.
Ia sempat menjadi Menteri Negara pada era 1945. Khusus urusan keamanan. Boleh jadi karena urusan keamanan pula, Oto tiba-tiba “menghilang” dalam sejarah. Belasan tahun kemudian terungkap, ia dibunuh di pesisir Ketapang, Tangerang oleh seorang polisi yang bernama Mujitaba. Tak jelas, siapa yang menyuruh sang polisi. Namun sempat muncul tudingan, Oto adalah antek penjajah kala itu
Sebagai penghargaan, sebuah taman makam pahlawan di Taman Pasir, Lembang didirikan untuk Oto. Namun di makam itu, tak pernah ada jasad Oto. Yang ada hanya sejumput pasir dari pesisir pantai tadi dan dikumpul dalam kain putih. Kemudian ditanam di bukit kecil, pinggir Jalan Raya Lembang, Kabupaten Bandung , tak jauh dari Observatorium Boscha. Tempat itu dipilih karena dipercaya sebagai basis perjuangan pahlawan yang berjuluk “Si Jalak Harupat” itu.
Peringatan hari ini juga dihadiri perwakilan keluarga Oto. Diantaranya anak dan cucunya. Tak terlihat wakil dari pemerintah, baik provinsi maupun kabupaten. Salah satu putranya, Rachmadi Iskandar Dinata mengatakan, keluarganya meyakini ayahnya itu tewas dalam usahanya mendirikan negara yang bebas dari penjajahan. “(Kematiannya) Itu sebagai resiko suatu perjuangan,” katanya.
Ahmad Fikri
INDEKS BERITA LAINNYA :
|