|
Minyak Tanah Langka Di Kota Kediri
Kamis, 03 April 2008 | 15:17 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Tak hanya elpiji, minyak tanah saat ini juga langka di Kota Kediri, Jawa Timur. Saking langkanya, di tingkat pengecer harga sudah menembus angka Rp 3 ribu per liter. Itupun barangnya belum tentu ada.
Dari pantuan Tempo, Kamis (3/4), di sejumlah pangkalan
minyak tanah, antrian warga yang hendak membeli minyak
tanah mengular hingga ratusan meter. Bahkan antrian
terjadi sejak sehari sebelum pangkalan dibuka, dimana
ratusan warga menitipkan jirigen kosong di sekitar
pangkalan.
"Saya telah mengantrikan jirigen saya sejak tadi
malam. Kalau tidak begitu susah untuk mendapat bagian
minyak tanah," kata Suminah, salah seorang warga yang
mengantri di pangkalan minyak tanah di Jalan Banjaran
I, Kota Kediri.
Menurut Suminah, alasan dia antri di pangkalan
tersebut karena harga masih sesuai HET (harga eceran
tertinggi) yang ditetapkan pemerintah, yaitu Rp 2.400
per liter. Sedangkan jika di tingkat pengecer berkisar
antara Rp 2.750–Rp 3 ribu per liter.
"Repotnya, meksipun harga sudah tinggi, tapi barangnya
juga sering tidak ada. Jadi lebih baik saya antri di
sini," kata Suminah.
Totok, pemilik pangkalan minyak tanah di Jalan
Banjaran I menjelaskan, setiap minggu dia mendapat
jatah 5 ribu liter dari Pertamina. Tiap kali pasokan
datang, minyak tanah langsung ludes dibeli konsumen.
"Antrian seperti ini sudah berlangsung sejak dua
minggu lalu. Saya tidak tahu apa penyebab kelangkaan
minyak tanah. Meskipun diserbu pembeli, tapi saya
tidak berani menaikkan harga. Tetap Rp 2.400 per
liter," kata Totok.
Untuk menjaga pemerataan konsumen, Totok membatasi
jumlah pembelian. Namun dia tidak mematok berapa
batasan maksimal boleh membeli di pangakalannya. Untuk
pembeli rumah tangga, setidaknya hanya diperkenankan
membeli dua jirigen bervolume 5 liter. Sedangkan untuk
pengecer, jumlah pembelian juga dikurangi separuh.
"Pokoknya diatur bagaimana caranya agar semua
pengantri bisa kebagian. Kasihan sudah datang
jauh-jauh tidak mendapatkan minyak tanah," kata Totok.
Sukri, salah seorang pengecer minyak tanah yang ikut
antri di pangkalan milik Totok mengaku jumlah
pembelian berkurang 50 persen. Biasanya dia membeli
sebanyak 8 jirigen minyak tanah (tiap jirigen berisi
20 liter). Saat ini dia hanya berhasil mendapatkan 4
jirigen saja.
"Keuntungan saya juga menjadi berkurang karena jumlah
minyak tanah yang saya kulak hanya separuh saja.
Minyak tanah itu saya jual lagi dengan harga Rp 2.750
per liter," kata Sukri.
Hingga pukul 14.00 wib, pangkalan minyak tanah Totok
masih terus kebanjiran pembeli. Banyaknya antrian
menyebabkan lalu lintas di kawasan Jalan Banjaran I
sempat terganggu. Diperkirakan, sejam kemudian stok di
pangkalan Totok akan ludes diborong pembeli. DWIDJO U. MAKSUM
INDEKS BERITA LAINNYA :
|