|
Petani Resah:
Harga Gabah Turun, Harga Pupuk Naik
Kamis, 03 April 2008 | 19:54 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Para petani di Kabupaten Malang meresahkan turunnya harga gabah, terjadinya kelangkaan pupuk, dan belum adanya bantuan benih.
Dalam pantauan Tempo di Kecamatan Pakisaji, Kepanjen, dan Sumberpucung, harga gabah kering panen (GKP) melorot dari kisaran Rp 2.400 hingga Rp 2.600 (periode Desember 2007 hingga Januari 2008), menjadi Rp 1.900 hingga Rp 2.100 per kilogram atau sedikit lebih rendah dari harga pembelian pemerintah.
Berdasarkan Instruksi Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Kebijakan Perberasan, harga GKP Rp 2.000 per kilogram di petani atau Rp 2.035 per kilogram di penggilingan, dengan kualitas kadar air maksimum 25 persen dan kadar hampa/kotoran maksimum sepuluh persen.
Syamsul Hadi, petani di Desa Ngebruk, Sumberpucung, mengatakan pascapanen Januari dan Februari banyak petani tetap melanjutkan penanaman kendati terlambat melakukan pemupukan. "Risiko terburuk yang harus kami tanggung akibat lambatnya pemupukan adalah hasil panen tidak maksimal. Biasanya, per hektare bisa menghasilkan 8 ton, namun karena pemupukannya terlambat, cuma dapat 5 ton," katanya, Kamis (3/4).
Harga pupuk cenderung naik dan pasokannya pun tidak stabil. Kondisi inilah yang membuat petani terlambat melakukan pemupukan. Harga pupuk urea di Sumberpucung, misalnya, mencapai Rp 140 ribu per kuintal atau Rp 20 ribu lebih mahal dari harga sebelumnya. Karena harga pupuk mahal, maka banyak petani yang terpaksa menunda penanaman sampai harga pupuk stabil. Tindakan ini diambil petani-petani yang baru menyelesaikan panennya pada Maret.
Kesulitan mendapatkan pupuk dibenarkan Purwanto. Kepala Dinas Pertanian ini mengatakan kesulitan mendapatkan pupuk yang dialami petani karena Surat Keputusan Gubernur Jawa Timur tentang alokasi kebutuhan pupuk baru keluar akhir Maret lalu. Surat ini pun harus ditindaklanjuti oleh SK bupati sebagai acuan penyaluran pupuk bersubsidi. Alokasi kebutuhan pupuk di Kabupaten Malang sebanyak 49.592 ton urea, ZA 34.642 ton, SP-36 6.025 ton, NPK 18.019 ton, dan pupuk organik 2.479 ton.
Purwanto berjanji segera menurunkan tim ke lapangan. Ia berharap agar petani tetap melakukan penanaman dengan pupuk organik karena kualitasnya lebih baik dan harganya juga lebih murah daripada pupuk kimia. "Tapi, kalau petani belum melakukan penanaman karena kesulitan mendapatkan benih, itu memang karena pada tahun ini kami belum mendapat bantuan benih dari pemerintah. Sebaiknya petani memulai penanaman dengan benih mereka sendiri," kata Purwanto. Abdi Purmono
INDEKS BERITA LAINNYA :
|