Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Dunia Pendidikan terpuruk, Guru-Guru Cianjur Malah Jalan-Jalan ke Malaysia
Sabtu, 05 April 2008 | 08:44 WIB

TEMPO Interaktif, Cianjur:Tuti Komalasari, Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri III Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, termangu di ruang kerjanya. Tangannya memegang selembar surat edaran yang baru diterimanya dari petugas Pos. Surat berkop Dewan Pendidikan Kabupaten Cianjur itu berisi ajakan kepada para guru se Cianjur mengikuti tour ke Kuala Lumpur, Malaysia.

Benak Tuti pun nglencer antara tugas-tugas menjelang ujian akhir tahun siswa dengan pemandangan seputar menara kembar Petronas di Ibukota Malaysia itu. Ekspresi wajahnya susah dilukiskan. Antara matanya yang membinar kesenangan, tapi juga senyum kecut yang tersungging di bibirnya. Apalagi melihat angka yang tercantum dalam surat itu. “Yah, kalau pun ikut, darimana biayanya” gerundel Tuti sambil melipat kembali surat itu.

Tuti adalah satu diantara sekian guru-guru di Kabupaten Cianjur yang Rabu lalu menerima surat itu sambil mengerundel. Maklum saja, surat edaran dari Dewan Pendidikan Kabupaten Cianjur mengajak 40 guru SD, SMP, SMA dan SMK di Cianjur untuk studi tour ke Kuala Lumpur Malaysia, 30 Mei – 2 Juni 2008.

Temanya sih menarik, “ Tour Education Dewan Pendidikan Kabupaten Cianjur” . Tapi yang menyesakkan banyak guru-guru itu, surat yang diteken Ketua Dewan Pendidikan Mamad Djunaedi dan Ketua Pelaksana, Zulaiman Zuhdi menyebut kutipan Rp 5 juta bagi peserta guru yang ikut. Ongkos yang lumayan besar bagi guru-guru daerah seperti Tuti. Apalagi di tengah kebutuhan hidup yang semakin mencekik.

Tentu saja, tawaran jalan-jalan para guru itu mejadi gunjingan tak sedap. Beragam tanggapan pun muncul. Wakil Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, Djadjang Sofwan Haris menganggap kegiatan studi tour itu sebagai mengada-ada. Seharusnya, kata Djajang, Dewan Pendidikan tak melakukan kegiatan yang sifatnya alih fungsi dari Dinas Pendidikan. "Terlalu over dengan kegiatan. Mereka seharusnya hanya bertugas mengawasi, bukan melakukan kegiatan," ujar Djadjang.

Apalagi kegiatan itu tak relevan. Dalam kalender pendidikan, Mei dan Juni adalah waktu sibuk tiap sekolah menghadapi ujian. "Kalau dipakai bepergian malah jadi tidak produktif," kata dia.

Sekretaris Komisi Pendidikan DPRD Kabupaten Cianjur Dudi Aryadikara meminta kegiatan itu tak dilaksanakan. Dudi akan segera memanggil Dewan Pendidikan memberukan penjelasan mengenai masalah itu. "Mereka tidak boleh berangkat, ini apa-apaan," ujar Dudi dengan nada berang.

Menurut Dudi, tawaran Dewan Pendidikan itu sungguh tak lucu. Apalagi tawaran jalan-jalan dilontarkan di tengah kondisi terpuruknya dunia pendidikan Kabupaten Cianjur. Ia menujuk rendahnya angka partisipasi kasar (APK) Pendidikan Dasar 9 Tahun di level Jawa Barat. "Cianjur berada di level terendah, nomor 25 dari 25 kota/kabupaten di Jawa Barat. Lah, ini malah mau jalan-jalan," Dudi melanjutkan.

Dudi memandang ironis jika pilihan studi banding untuk meningkatkan wawasan dilakukan ke Malaysia. Padahal, sambung Dudi, beberapa tahun lalu Malaysia melakukan studi banding ke Indonesia. "Apa itu bukan ironis namanya," imbuh dia.

Sekretaris Dewan Pendidikan Awaludin beralasan, kegiatan itu sebenarnya untuk menambah wawasan para guru soal perbaikan mutu pendidikan. Namun ketika ditanya timing dan ide jalan-jalan itu, Awaludin buru-buru mengaku tak dilibatkan dalam masalah itu. Ia juga terkesan menghindar dari pertanyaan. Sayangnya, Mamad Djunaedi maupun Sulaiman Zuhdi, saat dihubungi, telepon selularnya tidak pernah aktif.

Deden Abdul Azis

Dari Arsip Majalah TEMPO
Si Jenius yang Religius | 11 April 2005
Album | 28 Pebruari 2005
Berpacu Melawan Keterbatasan | 31 Januari 2005
Yang Bangkit di Bawah Tenda | 31 Januari 2005
Surat Pembaca | 24 Januari 2005
Berprestasi atau Tidak, Tergantung Ibu  | 29 Desember 1998
Nasib Mahasiswa  | 29 Desember 1998
Guru Autisme  | 22 Desember 1998
Dilatih Berani Bertanggung Jawab  | 22 Desember 1998
Carilah Pemimpin Sampai ke Amerika  | 22 Desember 1998
>>selengkapnya ::


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

111 Kabupaten Belum Tuntaskan Wajib Belajar
Buta Aksara di Kutai Kartanegara Tertinggi
DPRD DKI Setujui Beasiswa untuk 23 Ribu Siswa
Biaya Pendidikan di Jakarta Naik Dua Kali Lipat
Anggaran Pendidikan Dipangkas, Ribuan Guru Turun ke Jalan
Jawa Tengah Alokasikan 20 Persen Anggaran untuk Pendidikan
Pemerintah Siapkan 170 Ribu Beasiswa untuk Mahasiswa Miskin
Dewan Cianjur Minta Buku Karikatur Seri Pahlawan Nasional Ditarik
BPKP Temukan Banyak Pelanggaran BOS di Kalimantan Timur
Tangerang Naikan Insentif Guru Rp 300 Ribu
> selengkapnya...

Referensi

Jalan Panjang Ujian Negara
Sebuah Hajat dengan Seribu Kebijakan

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk120525 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Pasokan Daya Listrik PLN Tidak Transparan
Ratusan Pengusaha Tionghoa Nyatakan Dukungan Pada Yudhoyono
Presiden Optimistis Indonesia akan Jadi Lumbung Padi
Dua Pejabat Kutai Kertanegara Ditahan
Suara NU Tentukan Putaran Kedua Pemilihan Gubernur Jawa Timur

<< April,2008>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data