|
Akhirnya, Arema Setuju Nurdin Halid Diganti
Senin, 07 April 2008 | 11:58 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Lama menahan diri, klub Arema Malang akhirnya bersuara juga menyangkut kepengurusan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Arema tidak rela dunia sepak bola Indonesia tersingkir dan bahkan karam di pentas internasional gara-gara kemelut di PSSI tak kenjung beres.
"Kami bukan diam dalam pengertian tidak peduli, Mas. Kami diam karena berkonsentrasi pada pembentukkan tim. Sekarang pembentukkan sudah berjalan sesuai harapan, maka kami merasa sekarang juga waktunya untuk mengalihkan fokus perhatian dan kepedulian terhadap kepentingan yang lebih besar, yakni perbaikan dunia sepak bola kita lewat PSSI," kata Darjoto Setyawan, Ketua Dewan Pembina Arema, kepada Tempo, kemarin.
Ia mengaku diajak Saleh Ismail Mukadar, Ketua Umum Persebaya, untuk sama-sama menggalang klub-klub, dan pengurus daerah di Jawa Timur untuk bertemu pada 17 April nanti.
Substansinya, klub, pengurus, dan insan pencinta sepak bola menginginkan segera digelarnya musyawarah nasional luar biasa (munaslub) untuk menentukan pengganti Nurdin Halid, yang kini dipenjara dalam kasus korupsi dan sudah tidak diakui lagi oleh Badan Sepak Bola Dunia (FIFA).
Darjoto bercerita, "Pak Saleh yang ngajakin dan momennya pas bagi kami. Situasi yang berkembang sekarang kan menuntut adanya reformasi di tubuh PSSI. FIFA sudah menekan dan kalau tidak dipatuhi, sepak bola kita bisa dikucilkan dan tidak diakui dunia. Yang rugi bangsa kita sendiri, akibat ulah segelintir orang. Kalau sudah FIFA menekan, secara realistis, munaslub itu menjadi keharusan dan tidak bisa dihindari. Arema juga tak bisa menghindar untuk tidak bersikap."
Dalam krisis kepemimpinan di PSSI, sudah seharusnya pengurusnya rela berkorban demi persepakbolaan Indonesia. Pengorbanannya bisa dalam bentuk apa saja asal demi kemajuan persepakbolaan nasional. Misalnya mengundurkan diri. Pengorbanan juga harus datang dari pengelola klub, pelatih, pemain, bahkan suporter.
Reformasi di tubuh PSSI harus diwujudkan dalam pergantian pimpinan. Untuk itu, Arema mengusulkan tiga calon pengganti Nurdin Halid. Mereka yakni Nirwan D. Bakrie (Wakil ketua umum PSSI), pengusaha Rachmat Gobel (bekas Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia), dan Letnan Jenderal TNI (Purnawirawan) Erwin Soejono (bekas Panglima Kostrad dan bekas Kepala Staf Umum TNI).
Pria berkaca mata yang kini menjadi Ketua Dewan Komisaris PT Arema Indonesia ini tidak mengurut mana yang terbaik dan pantas menggantikan Nurdin Halid. Ketiganya punya kesempatan yang sama besar untuk dipilih.
Darjoto menilai Nirwan sebagai sosok orang dalam (insider) yang mempunyai integritas dan dedikasi yang tinggi untuk memajukan persepakbolaan nasional. Reputasinya sudah teruji dan terbukti.
Rachmat Gobel dinilai sebagai pengusaha sukses yang sangat peduli terhadap kemajuan olahraga nasional, khususnya olahraga pencak silat. Selain itu Rachmat aktif di KONI.
"Pak Rachmat ini punya kemampuan manajerial yang bagus dan dia sekarang ini lagi 'kosong' dari jabatan olahraga apa pun. Yang saya tahu lagi, Pak Rachmat itu sangat mencintai sepak bola, selain silat," begitu Darjoto menilai Rachmat Gobel.
Sedangkan Erwin Soejono merupakan orang lapangan yang terbiasa hidup dan memimpin dalam dunia yang keras dan menuntut disiplin tinggi, yakni militer. PSSI itu perlu dipimpin seorang tokoh yang kuat dan tegas karena persepakbolaan nasional mirip hutan belantara.
Meski pamor dan reputasi Erwin di dunia olahraga tidak setenar Nirwan dan Rachmat, Erwin merupakan sosok pencinta olahraga. Ia pernah memimpin olahraga bela diri tradisional Jawa Barat, tarung drajat, dan taekwondo. Ia pula yang membentuk klub sepak bola Divisi 2 Kostrad di Singosari. Klub ini sering melakukan uji tanding dengan Arema.
"Ya, saya tidak prioritaskan mana yang paling baik dan pantas. Semua punya kelebihan. Biarlah publik yang menilai mereka. Bagi saya, mereka itu tetap teman-teman saya. Ini hanya usulan kami dan akan kami sosialisasikan dalam pertemuan 17 April nanti."
Yang terpenting lagi, Darjoto menekankan, siapa pun pengganti Nurdin Halid, ia harus punya visi memajukan dan menaikkan reputasi persepakbolaan nasional ke pentas dunia. Sudah waktunya, dengan potensi yang begitu besar, persepakbolaan Indonesia go international dan tidak lagi disibuki persoalan-persoalan sepele dan sangat politis.
"Minimal, siapa pun yang gantiin nanti, harus mau bekerja keras mengembalikan kejayaan sepak bola kita dengan menjadi yang terbaik di Asia Tenggara dulu." Abdi Purmono
INDEKS BERITA LAINNYA :
|