|
Endapan Lumpur Jadi Problem Pascabanjir
Senin, 07 April 2008 | 20:09 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Setelah terendam banjir hampir 15 hari lamanya, warga di sejumlah desa di Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, kini dihadapkan problem baru. Pasalnya, pascabanjir, sejumlah fasilitas umum dan areal persawahan di desa-desa kecamatan itu, terendam lumpur rata-rata 1meter.
Tercatat ada dua desa—dari total 16 desa di Kecamatan
Widang terendam lumpur. Yaitu Desa Tegalrejo dan Desa
Simorejo, Kecamatan Widang, yang daerahnya terendam
Lumpur. Mengendapnya lumpur yang menyasar ke perumahan
penduduk, jalan dan areal persawahan ini, dampak dari
jebolnya tanggul darurat di tepian Bengawan Solo.
Tanggul tersebut jebol, mulai awal Januari lalu, dan
hingga kini proses perbaikannya belum selesai.
Ketinggian air dari luapan sungai terpanjang di Pulau
Jawa ini, penghambat perbaikan.
Data sementara, lumpur menyasar ke sedikitnya 260
hektare areal pertanian dan sebagian tambak. Selain
itu, lumpur juga membenami sekitar 40 centimeter jalur
poros kecamatan yang menghubungkan antara Kecamatan
Widang, Lamongan dengan Kecamatan Pucuk, Kabupaten
Lamongan. Akibat banyaknya lumpur, warga lebih memilih
jalur samping. Yaitu lewat beberapa jalan desa, yang
kini airnya mulai surut.
Menurut Suryanto, salah satu aktivis LSM yang bekerja
untuk bantuan sosial, lambatnya distribusi bantuan ke
desa-desa di Widang, karena terhambat ketebalan
lumpur. Dia menyebut, kawasan Desa Simorejo, dan
sekitarnya cukup dalam lumpurnya. Untuk bias menembus
areal desa, dirinya harus menggunakan perahu dan
memilih jalur. “Jika tidak, perahu kita jadi sulit
bergerak,” tegasnya pada Tempo, Senin (7/4).
Ketebalan lumpur juga membuat para petani dan
pengelola tambak, harus gigit jari. Pasalnya, selama
tiga bulan lebih—sejak banjir Januari lalu, nyaris
sawah dan tambak di Kecamatan Widang dan sekitarnya
tidak berfungsi. jatmiko
INDEKS BERITA LAINNYA :
|