Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Sistem Baru Distribusi Minyak Tanah Bermasalah
Senin, 07 April 2008 | 20:43 WIB

TEMPO Interaktif, PURWAKARTA:Kebijakan BP Migas yang akan menerapkan regulasi sistem distribusi minyak tanah bersubsidi secara tertutup ternyata menimbulkan persoalan baru di tingkat operator di daerah. Menurut Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Wilayah Purwakarta, Subang dan Karawang, Auh Solehudin, system baru itu membuat mereka harus menambah pangkalan baru.

Di wilayahnya saja, setidaknya harus berdiri 1800 pangkalan baru dari 800 pangkalan yang sudah ada saat ini. "Idealnya, satu desa disiapkan dua pangkalan. Saat ini satu desa paling banter satu titik. “ ujarnya di Purwakarta, Senin (7/4).

Menurut Auh, penambahan ribuan pangkalan baru distribusi minyak tanah bersubsidi itu dilakukan untuk mengamankan kebocoran aliran minyak tanah bersubsidi agar tidak seperti yang selama ini terjadi. Kelak, konsumen di desa A tidak bisa lagi membeli di pangkalan desa B. Setiap agen pun akan punya data konsumen yang harus dilayaninya dan konsumen memiliki kartu penerima subsidinya.

Kenaikan HET pun, kata Auh, perlu dilakukan untuk memacu keinginan masyarakat berinvestasi. HET lama dengan margin Rp.95 per liter, masyarakat tidak mungkin tertarik berinvestasi. Karenanya, Hiswanamigas mengusulkan HET baru dengan margin menjadi Rp.300 per liter. Misalnya, Hiswanamigas mengusulkan HET di Purwakarta dan Karawang semula Rp.2.310 dan Rp.2.300 per liter men jadi Rp.2.500 per liter dan HET di Subang yang semula Rp.2.400 menjadi Rp.2600 per liter.

Masalah lain yang tak kalah penting, menurut Auh, adalah rentang waktu minyak tanah bersubsidi yang umurnya tinggal delapan bulan lagi, terhitung Mei mendatang. " Dengan margin yang ada sekarang dan jatah yang diberikan rata-rata lima kilo liter per bulan dan waktu tinggal delapan bulan lagi tak mungkin ada yang mau berinvesatasi.

Mulyana Enoch, Kepala Bagian Ekonomi, Pemkab Purwakarta, mengaku belum mengetahui tata-cara reguklasi distribusi minyak tanah bersubsidi yang akan diterapkan pihak BP MIgas tersebut. "Kita akan bicara dulu dengan Hiswanamigas," kata Mulyana. Soal harus berdirinya ratusan pangkalan baru, Mulyana, mengusulkan agar peran pengecer dialihfungsikan menjadi pangkalan.

Nanang Sutisna




INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Pasokan Minyak Tanah di 3 Kecamatan Dihentikan
Agen Minyak Tanah Surabaya Tolak Konversi
Ibu Rumah tangga Unjuk Rasa Soal Minyak tanah
750 Agen Minyak Tanah di Jakarta Timur Akan Menjadi Agen Gas

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk120667 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Satu Orang Terluka di Kecelakaan Tol Tangerang
Kejaksaan Kembalikan Berkas Kasus Sinar Pacific
Persiba Siapkan Pengganti Peter Butler
Empat Korban Minuman Keras Masih dirawat, Tiga lainnya Tewas
Menteri Keuangan Kembali Bekukan Izin Kantor Akuntan Publik

<< April,2008>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data