|
TNI AU Remajakan Pesawat Hercules ke Singapura
Selasa, 08 April 2008 | 16:46 WIB
TEMPO Interaktif, Malang:Pangkalan Udara TNI AU Abdulrachman Saleh Malang, Jawa Timur, akan meremajakan satu dari lima pesawat angkut militer jenis Hercules C-130B ke Singapura, pertengahan tahun ini. Peremajaan ini merupakan bagian dari peningkatkan kemampuan alat utama sistem persenjataan TNI AU. ”Satu Hercules akan diretrovit biar kemampuan setara dengan jenis Hercules C-130H,” kata Komandan Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Marsekal Pertama Irawan Supomo, seusai membuka Pameran Tentang TNI AU di Pusat Perbelanjaan Malang Town Square, Selasa (8/4).
Menurut Irawan, pada retrovit nanti, mesin pesawat buatan sekitar tahun 1960-an itu akan diganti dengan mesin pesawat Hercules tipe H buatan tahun 1980-an. Dengan penggantian ini, kemampuannya meningkat dari semula 4.050 equivalent shaft horsepower (ESHp) menjadi 4.900 ESHp. ”Ini sama dengan membuat kemampuan pesawat Hercules tipe B atau meningkat hingga titik paling maksimum,” ujarnya.
Selain mengganti mesin, sistem avionik lima pesawat Hercules itu juga akan diganti dengan yang lebih baru. Termasuk struktur material body yang sudah tua, sehingga keamanannya lebih terjamin saat digunakan.
Peremajaan pesawat Hercules selain mempermudah pembelian spare part, juga mempermudah perawatan karena hampir seluruh negara di dunia mengoperasikan pesawat jenis ini. Sebaliknya, Hercules tipe B saat ini hanya digunakan oleh sedikit negara sehingga sulit memesan sparepart atau melakukan perbaikan pesawat.
Proyek peremajaan pesawat angkut Hercules TNI AU ini sudah dicanangkan sejak 2004 lalu. Namun pelaksanaanya molor hingga tahun ini karena dana masih tertahan di Departemen Keuangan. Untuk peremajaan ini, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar US$ 51 juta yang akan dibayarkan melalui kredit ekspor 2004-2009.
Landasan Udara Abdulrachman Saleh Malang mempunyai lima unit pesawat angkut jenis Hercules C-130B yang berada di bawah komando Skuadron 32. Untuk tahap pertama, hanya dua pesawat yang akan retrovit. Dari dua itu, salah satunya akan dikerjakan di Singapura oleh Singapore Technology Aerospace (STAe). ”Satu hercules ini sebagai pilot project retrovit pesawat angkut militer TNI AU,” ujar Irawan
Meski pengerjaannya di Singapura dan ditangani oleh STAe, TNI AU akan mengirimkan sejumlah teknisi untuk ikut belajar di sana. Diharapkan, para teknisi bisa mengambil alih teknologi perawatan Hercules. Teknisi yang akan dikirim berasal dari Depo Pemeliharaan 10 yang menangani struktur pesawat, Depo Har 20 yang menangani avionik pesawat, Depo Har 30 yang menangani mesin pesawat, dan Depo Har 32 yang menangani penggunaan pesawat.
Sedangkan satu pesawat lagi akan diretrovit di Depo Pemeliharaan 30 Lanud Abdulrachman Saleh, setelah pilot project di Singapura selesai. Retrovit di Lanud Abdulrachman Saleh akan diawasi oleh STAe. Proses retrovit satu pesawat Hercules membutuhkan waktu sekitar enam bulan. Ini sudah termasuk pengeluaran sertifikasi dari STAe.
Bibin Bintariadi
INDEKS BERITA LAINNYA :
|